Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Tanpa Inspirasi
Jika kita melempar pertanyaan kepada kalangan pendidik, terutama ke para guru, “Kenapa anda memilih pekerjaan atau profesi sebagai guru?” maka jawaban yang kita terima pasti berbeda-beda. Diantara jawaban yang berbeda-beda itu, apakah mungkin hingga saat ini, masih ada diantara mereka yang menjawab ”Karena saya ingin mendidik anak-anak bangsa ini menjadi manusia yang cerdas, berkualitas dan berbudi pekerti luhur.” Jawaban seperti itu terlihat begitu indah namun sekaligus begitu mengada-ada, begitu palsu. Apalagi jika dilihat sepintas, keberadaan guru yang seharusnya merupakan suatu profesi mulia, justru sangat kurang mendapatkan perhatian dari para pembuat kebijakan di negeri ini.
Masalah ini bukan masalah baru yang sekiranya bisa membuka mata kita semua. Masalah ini sudah ada sejak sekian lama namun sayangnya tetap belum ada solusinya. Guru yang dimaksud disini adalah mereka yang berstatus pegawai negeri, guru honorer, guru tidak tetap, atau guru apapun namanya, yang jelas bukan guru di sekolah-sekolah swasta yang bisa menikmati kehidupan layak dimana jerih payah mereka sebagai tenaga pendidik benar-benar diakui dan dihargai secara moril maupun materil. Guru yang dibahas disini adalah mereka yang gaji per bulan nya hanya cukup untuk menghidupi keluarga dan tidak ada sisa lagi untuk cadangan masa depan maupun kesehatan keluarganya.
Jika keadaan sudah begini (dan memang kenyataannya saat ini sudah begini), lalu darimana kita mulai membenahi yang perlu dibenahi? Kita tidak menyadari bahwa kondisi tenaga pendidik yang berada dibawah garis hidup layak jelas akan berpengaruh terhadap kualitas ajarannya. Jika dihadapkan pada situasi belajar-mengajar di kelas yang cenderung ”membosankan” maka klop-lah kebobrokan sistem pendidikan di sekolah-sekolah kita ini. Tenaga pendidik memberikan pengajaran berdasarkan buku teks (yang mungkin saja sudah sangat ketinggalan jaman, bisa saja terbit 10 tahun lalu namun cetakan ke-10), menulis di papan tulis dan meminta siswa mencatat. Begitulah cara mereka menghabiskan sebagian besar jam kerjanya. Jika siswa memilih untuk tidak mencatat, maka ia tidak akan bisa mengafalkan materi dan otomatis nilai ulangan siswa itu akan jeblok.
Apakah sistem pendidikan seperti ini yang diharapkan menjadi ujung tombak perombakan mental manusia Indonesia? Menteri pendidikan boleh jadi sudah ganti beberapa kali, tetapi sistem pendidikan dan manusia-manusia yang diciptakan sepertinya kok sama saja, tidak berbeda? Siswa dididik menjadi manusia yang berpola pikir sempit, mencari suatu kebenaran atau jawaban dari buku teks, dan terbatas hanya kepada hal-hal yang ditanyakan ketika ulangan. Lalu bagaimana mungkin ia bisa memiliki keinginan untuk mencari suatu jawaban atas rasa ingin tahunya sendiri dan bukan karena harus menjawab pertanyaan atau karena takut sama gurunya, atau supaya lulus ulangan?
Saya pribadi sangat setuju kepada sistem pengajaran inspiratif. Ibarat kolam pancing, fungsi guru hanya sebagai penyebar ikan-ikan kedalam kolam. Siswa kemudian berlomba-lomba memancing ikan tersebut satu per satu, dengan cara mereka sendiri. Jika mereka menemui kesulitan, mereka dapat berkonsultasi dengan gurunya. Sistem yang ada saat ini, menurut saya, hanya menyediakan ikan-ikan langsung didepan siswa, lalu mengharuskan mereka mengikatnya di tali pancing, tanpa memaksa mereka berusaha, tanpa menjelaskan alasannya. Jika tidak menurut, maka tidak mendapat nilai bagus. Sangat membunuh kreativitas siswa. Mereka hanya menelan mentah-mentah tanpa mengetahui jawaban dari pertanyaan ”kenapa sih kita harus belajar sejarah?” atau ”kenapa sih kita harus belajar agama?”, dan pertanyaan kritis ”bagaimana mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di sekolah untuk bisa sukses di dunia nyata?”
Matinya kreativitas dan inspirasi anak sedikit banyak juga merupakan akibat dari sistem pengajaran yang diberikan oleh tenaga pendidik. Jika para guru tidak dengan aktif merangsang kreativitas anak, lalu bagaimana mereka bisa menjadi manusia yang memiliki rasa ingin tahu yang besar? Padahal kita semua tahu bahwa kunci keberhasilan seseorang sering kali disebabkan oleh rasa ingin tahunya yang besar. Jika sudah tidak punya rasa ingin tahu, alias serba menurut apa kata guru tanpa mengetahui mengapa harus begini atau begitu, kita sudah bisa membayangkan manusia seperti apa yang akan diciptakan dari sistem pendidikan seperti ini.
Dan ketika si anak ini akhirnya menyelesaikan pendidikan, ia akan bertarung di dunia nyata dimana ia akan bersaing dengan anak-anak dari sekolah swasta yang notabene jauh lebih cerdas, lebih kratif, baik dari sisi akademik maupun emosional jika dibandingkan dengan mereka. Ditarik lebih jauh lagi, mereka akan bersaing untuk mendapatkan pekerjaan. Lebih jauh lagi, pekerjaan itu akan mempengaruhi kesejahteraan hidupnya, dan juga kesejahteraan keluarganya. Lalu bagaimana bisa menciptakan perombakan mental apabila inti permasalahan tidak diselesaikan, yaitu dalam hal ini kesejahteraan tenaga pendidik yang belum mendapatkan prioritas. Karena pada kenyataannya, hingga saat ini semuanya berjalan sama saja. Para guru tetap mendapatkan kompensasi yang belum memadai.
Apakah mungkin seluruh pengambil kebijakan di negara kita ini menganggap bahwa pendidikan adalah prioritas? Mengapa sampai sekarang sektor pendidikan selalu kurang mendapatkan perhatian? Apakah terlalu muluk jika kita menginginkan pendidikan murah atau bahkan gratis tanpa khawatir akan kualitasnya? Mungkinkah kondisi hidup tenaga pendidik ditingkatkan sesuai dengan kapabilitas mereka? Apakah mereka benar-benar memiliki kompetensi yang memadai atau hanya sekedar mencari sesuap nasi? Sadar atau tidak, pendidikan di negara kita disalurkan melalui tenaga-tenaga pendidik yang miskin inspirasi, atau bahkan inspirasi mereka sudah mati karena setiap saat harus bergulat dengan kondisi hidup yang masih jauh dari layak. Sayangnya, yang menjadi taruhan adalah anak-anak kita dan masa depannya. Jika sudah demikian rusaknya, lalu (seperti biasa) melakukan pembenahan atas sesuatu yang sudah terlambat.