pipi's posts with tag: islam
Dari: http://pustakahikmah.multiply.com/journal cuman buat mengingatkan saya.. bahwa tangga yang dimaksud disini sifatnya naik.. jadi, sesudah lolos dari tahapan pertama, selayaknya berusaha sebisa mungkin untuk tidak kembali ke anak tangga bagian bawah...
Meniti Tangga Kesenangan Dalam Hidup
..sesungguhnya kesenangan hidup ini dibuang sebanyak tiga kali... (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani) Pada mulanya, seorang hamba Allah berada dalam kegelapan kejahiliahannya dan dalam keadaan yang tidak tentu arah, ia bertindak sewenang-wenang dalam seluruh tindak-tanduk hidupnya dengan menuruti hawa nafsu kebinatangannya semata-mata, tanpa mau mengabdikan dirinya kepada Allah dan tanpa pegangan agama yang mengawal dirinya. Dalam keadaan seperti ini, Allah melihatnya dengan penuh kasih sayang. Oleh karena itu, Allah mengutus seorang penasihat kepadanya dari orang-orang yang termasuk dalam golongan manusia-manusia Tuhan yang juga seorang hamba Allah yang baik, dan satu penasihat lagi yang terdapat dalam dirinya sendiri. Kemudian, kedua penasihat ini mempengaruhi dirinya. Sehingga, hamba itu dapat melihat cacat yang ada pada dirinya seperti mengikuti hawa nafsu saja dan tidak mengikuti yang haq (benar). Dengan demikian, ia cenderung untuk mengikuti peraturan-peraturan atau hukum-hukum Allah di dalam semua tindak-tanduknya.
Kemudian hamba itu menjadi seorang yang berdiri tegak di dalam hukum-hukum Allah, keluar dari keadaannya yang jahiliah dan meninggalkan hal-hal yang haram dan meragukan. Hamba itu hanya mengambil perkara-perkara yang halal saja seperti makan, minum, bepergian, kawin dan lain sebagainya yang kesemuanya diperlukan untuk menjaga kesehatan dan kekuatan untuk patuh kepada Allah, asalkan ia menerima sepenuhnya apa yang diberikan Allah kepadanya dan tidak boleh melampaui batas serta tidak boleh keluar dari kehidupan dunia ini sebelum ia pergi mendapatkannya dan menyempurnakannya.
Maka berjalanlah ia di dalam hal-hal yang halal dalam seluruh keadaan hidupnya ini, sehingga ia mencapai peringkat kewalian (wilayah) dan masuk ke dalam golongan orang-orang yang membenarkan hakikat dan orang-orang pilihan Allah yang menghendaki hidup yang berdampingan dengan Allah SWT. Setelah itu, ia pun hanya berjalan di dalam perintah Allah saja, dan di dalam dirinya ia mendengar firman Allah yang maksudnya kurang lebih, "Buanglah dirimu sendiri dan marilah ke mari, buanglah kelezatan dan kemewahan duniawi dan makhluk, jika kamu menghendaki Allah. Buanglah dunia dan akhirat serta kosongkanlah diri dan segala-gala selain Allah. Merasa senanglah dengan keesaan Allah. Buanglah syirik dan bersikap ikhlaslah. Kemudian, masuklah ke dalam majelis ke-Tuhan-an dan mendekatlah kepada-Nya dengan bersujud dan menghinakan diri (dihadapkan-Nya) serta tidak lagi condong kepada hal-hal keduniaan, atau makhluk atau kemewahan hidup." Apabila ia telah sampai kepada peringkat ini dan telah teguh di dalamnya, maka ia akan menerima pakaian kemuliaan dan kehormatan dari Allah, dan Allah akan melimpahkan nur dan berbagai karunia. Lalu dikatakan kepadanya, "Pergunakanlah rahmat dan nikmat-Ku, dan janganlah bersikap angkuh serta jangan pula membuang kehendak atau kemauan, karena menolak pemberian-Ku itu bisa memberatkan Aku dan memperkecil kekuasaan-Ku". Kemudian, ia pun diberi pakaian yang mulia dan terhormat itu, tanpa ia sendiri memainkan peranan di dalam perkara tersebut. Sebelum itu, ia diselimuti oleh kemauan hawa nafsunya sendiri saja, lalu dikatakanlah kepadanya, "Selimutilah dirimu dengan rahmat dan karunia Allah. Jadi, bagi dia, ada empat peringkat di dalam mencapai kebahagiaan dan bagiannya. Peringkat pertama, ialah kehendak hawa nafsu kebinatangan semata dan ini adalah diharamkan. Peringkat kedua, ialah menuruti hukum dan undang-undang Allah, dan ini diperbolehkan. Peringkat ketiga adalah peringkat peringkat batin, dan ini adalah peringkat kewalian (wilayah) dan membuang hawa nafsu kebinatangan. Peringkat keempat adalah peringkat keridhaan dan karunia Ilahi, di sini lenyaplah kehendak dan maksud diri. Inilah peringkat Badaliyyat. Hamba itu masuk ke dalam majlis ke-Tuhan-an Yang Maha Tinggi, ia berserah bulat kepada Allah dan menuruti perbuatan Allah semata-mata. Inilah peringkat di mana ia terus mendapatkan ilmu Allah dan mempunyai sifat-sifat yang baik. Seorang hamba tidak boleh dikatakan benar dan baik, jika ia belum mencapai peringkat ini.. Ini sesuai dengan firman Allah yang maksudnya lebih kurang, "Sesungguhnya kawanku ialah Allah yang menurunkan Al-Qur'an dan Dia menolong orang-orang yang baik." Oleh karena itu, hamba yang telah mencapai peringkat keempat ini tidak lagi mempergunakan apa-apa yang memberikan manfaat kepada dirinya dan tidak pula menghindarkan apa-apa yang memberikan madharat kepada dirinya. Ia seperti bayi di pangkuan ibunya atau seperti mayat di tangan orang-orang yang sedang memandikannya. Ia hanya bergantung kepada qadha' dan qadar Allah semata-mata, menyerahkan pilihan kepada Allah tanpa berusaha mendahului apa-apa yang telah ditentukan Allah kepadanya. Ia kembali kepada Allah untuk melakukan apa saja karena-Nya. Ia tidak mempunyai apa-apa lagi. Kadang-kadang Allah memberinya kesusahan dan kadang-kadang memberinya kesenangan. Kadang-kadang ia kaya dan kadang-kadang ia miskin papa. Ia tidak mau memilih atau menginginkan suatu posisi tertentu atau ingin mempertukarkan posisi itu. Sebaliknya, ia ridha dan senang hati kepada apa pun yang diperbuat Allah terhadapnya. Inilah peringkat terakhir dalam pengembaraan kerohanian yang dicapai oleh para Abdal dan Aulia (kekasih Allah).
Mengungkap Ajaran Siti Jenar Sosok Syekh Siti Jenar yang banyak dimitoskan pelan-pelan terkuak. Beberapa penelitian menyingkap sosok dan ajarannya. Benarkah dia sosok yang murtad dari sudut pandang agama? Selasa lalu (15/5) Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) berbincang-bincang dengan Agus Sunyoto, penulis 7 jilid buku fiksi sejarah tentang tokoh kontroversial tersebut. -----------
Seperti apa riwayat ketertarikan Anda meneliti sosok Syekh Siti Jenar? Kakek saya dari pihak ibu adalah orang Jombang. Dia mengaku mengamalkan ajaran Syekh Siti Jenar. Ketika saya tanya dari mana memperoleh pengetahuan itu, dia jawab, "Lho, saya kan santri Tebu Ireng angkatan pertama!"
Dia meninggal 1995 dalam usia 105 tahun. Satu-satunya guru yang dia ikuti ajarannya sampai saat itu adalah almarhum KH Hasyim Asyari. "Berarti Mbah Hasyim mengajarkan soal ini, dong?" tanya saya. "Lha, iya!" katanya.
Saya berpikir, dari mana dia dapat itu kalau bukan dari Mbah Hasyim langsung. Tapi saya masih ragu: masak Mbah Hasyim mengajarkan itu?! Dari beberapa sumber lain, saya mendapat jawaban yang sama. Jadi, saya berkesimpulan benar bahwa Mbah Hasyim mengajarkan itu.
Apakah ajaran Siti Jenar masih berjejak dalam masyarakat Jawa saat ini? Ada. Itu terlihat dari adanya guru-guru tarekat atau kebatinan dari kalangan pribumi. Sebelum Siti Jenar, masyarakat pribumi tidak boleh menjadi guru (tarekat). Setelah itu, baru boleh.
Unsur-unsur apa dari ajaran Siti Jenar yang masih tampak dalam tarekat yang mengklaim tersambung dengan dirinya? Egalitarianisme. Mereka egaliter sekali. Tarekat mereka tidak mengenal mursyid-mursyid yang diagungkan. Kalau mereka berdiskusi soal-soal teologis, maka kedudukan guru tidak ada sama sekali. Semua orang adalah lawan bicara. Jadi, tidak ada kultus mursyid.
Adakah ciri lainnya? Ada. Cara mereka menuju Tuhan sangat individualistik. Toh, Nabi Muhammad ketemu Tuhan dengan cara sendirian di Gua Hira. Mereka tidak rame-rame. Kalau dilakukan rame-rame, itu namanya demonstrasi, bukan mencari Tuhan. Ketiga, masing-masing pengikut tarekat ini tidak saling kenal, dan ajaran-ajarannya disampaikan secara rahasia.
Doktrin apa yang tampak paling mencolok dari tarekat mereka? Yang utama soal tauhid. Pemahaman tentang ini agak beda dengan pemahaman awam. Tuhan bagi mereka adalah sesuatu yang tidak terdefinisikan. Laitsa kamitslihi syai’un atau Dia adalah yang tidak bisa digambarkan. Siti Jenar juga mengatakan bahwa ke-99 sifat Tuhan di dalam asma’ul husna itu juga ada potensi-potensinya dalam diri semua manusia.
Manusia punya sifat sabar karena Allah punya sifat as-Shabûr (Mahasabar). Manusia sombong karena memang ada sifat al-mutakabbir (Mahasombong) pada Allah.
Ada juga sifat ad-Dhâr, Yang Maha membuat bahaya. Lah, manusia itu kan sering melakukan hal yang membahayakan orang lain maupun dirinya. Jadi, bagi Siti Jenar, tanpa adanya manusia, tidak ada asma’ul husna, karena dia juga mengejawantah di dalam diri manusia.
Pandangan teologis Siti Jenar itu qadariyah, jabariyah, atau apa? Tidak itu semua. Bagi dia, orang yang mengamalkan ajarannya haruslah hidup dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dari situ dapat dibuktikan bagaimana citra insan kamil (manusia sempurna) itu mengejawantahkan sifat-sifat Tuhan. Artinya, manusia adalah cerminan Tuhan.
Karena itu, manusia harus mengamalkan watak as-Shabûr, al-`Âdil, al-Hakîm, dan watak-watak Tuhan lainnya.
Siti Jenar punya struktur berpikir yang sederhana. Misalnya, dia bicara soal al-khâliq, Mahapencipta atau Sang Pencipta. Kata ini terdiri atas tiga huruf: kha’, lam, qaf. Dari kata khâliq itu justru ada ciptaan atau al-khalq. Jadi, ada pencipta dan ada ciptaan.
Karena itu, munculnya khalq atau ciptaan berasal dari kha-la-qa dan al-khâliq. Hurufnya masih sama: kha’, lam, dan qaf. Nah, bagaimana cara si khalq menuju khâliq?
Jadi? Ada perantara bernama khuluq, budi pekerti. Khuluq-nya siapa? Khuluq yang karim (budi pekerti yang mulia). Semakin seseorang tak bisa mengejawantahkan khuluq itu, makin jauh dia dari Tuhan. Kalau khuluq-nya jelek, ya mesti jauh dari khâliq. Kalau mau dekat, ya harus mencerminkan perilaku sang khâliq.
Apa standar khuluq-nya di situ? Ya, perbutan sehari-hari. Ritual salat misalnya, (yang penting) efeknya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar (menjauhkan dari perbuatan keji dan munkar, Red). Khuluq itu ada dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, orang tidak boleh mengasingkan diri dari kehidupan dan masyarakat. Khairun nas anfa`uhum lin nas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, Red). Makin banyak manfaatnya akan makin bagus; makin mulia. Makin banyak mudaratnya, makin jelek orangnya.
Lalu fungsi ritual agama seperti apa? Kalau kembali ke syariat, satu-satunya agama yang mensyaratkan uji empiris adalah Islam. Semuanya empiris, dan yang tidak empiris tidak diakui. Orang yang beriman harus jelas: diyakini di dalam hati, lalu diucapkan dengan lisan.
Pengujinya apa? Perbutan! Kalau ucapanmu tak sesuai dengan tindakanmu, maka stempelmu adalah munafik. Itu empiris! Jadi, dasar pertama adalah uji empiris. Sampai menyangkut soal salat. Untuk menandai kamu Islam, ya salat. As-salâtu `imadud dîn, salat itu tiang agama. Jadi, ujinya empiris.
Di mana titik polemis antara Siti Jenar dan para wali lainnya? Tidak ada (dalam soal itu). Tapi, Siti Jenar juga mengajarkan unsur tarekat yang di dalamnya terkandung pengetahuan-pengetahuan spiritual. Yang namanya spiritualitas itu kan tidak bisa dibuktikan secara empiris. Sementara, bagi ulama yang berpikiran feqih atau syariat-sentris, pengalaman spiritual itu bersifat sangat pribadi. Bagaimana membuktikannya?!
Kalau sudah fana ketemu Tuhan, apa tandanya? Karena itu, susah memahami ungkapan sosok seperti al-Hallaj, wamâ fî jubbatî illalLâh, tidak ada lain dalam jubahku kecuali Allah. Atau ungkapan anal haq! (akulah Sang Kebenaran) dan ungkapan lainnya.
Semua itu tidak bisa dibuktikan secara empiris. Makanya, itu dianggap salah. Karena standar ujinya empirisisme.
Apa beda teori penciptaan Siti Jenar dengan teori pancaran atau emanasi dari Ibu Sina? Dalam pandangan Siti Jenar, munculnya segala makhluk berasal dari itu tadi: khâliq menjadi khalq. Kemudian, ada juga istilah ma`bûd (sembahan) dengan `âbid (penyembah). Hurufnya sama.
Bagi Siti Jenar, ada tuan dan ada hamba. Di antara keduanya ada yang bernama `ibâd (kawula). Dari sini juga muncul kata ibadah. Jadi, hubungannya lurus; harus lurus. Kalau hubungan `ibâd dengan ma`bûd makin tidak lurus, itulah yang dinamakan bid’ah.
Jadi, bid’ah tak dimaknai sebagai sesuatu yang ditambah-tambahi dalam agama. Standarnya tidak fikih. Kalau sesuatu menyimpang dari tauhid, itu baru bid’ah.
Kalau orang melakukan ibadah, misalnya, sedekah, untuk pamer-pamer, bukan untuk ma`bûd-nya, itu bid’ah, pamer! Ayo tivi, shooting saya yang nyantuni anak yatim! Itu bid’ah namanya. Itulah pemaknaan Siti Jenar.
Untuk memperantarai hubungan khâliq dengan khalq, ada konsep nur muhammad. Anda memaknainya sebagai "cahaya yang terpuji", bukan cahaya Nabi Muhammad. Mengapa? Itu pemaknaan Siti Jenar. Nama Muhammad itu kan terhitung baru. Sebelum Islam, tak ada orang Arab bernama Muhammad. Dan yang menyampaikan konsep nur muhammad juga bukan Nabi Muhammad. Ini konsep perantara untuk penciptaan awal.
Nur muhammad inilah yang oleh Siti Jenar dianggap sebagai cara pemunculan hakikat muhammadiyah.
Ceritanya begini. Taruhlah nur muhammad itu biji nangka yang sudah ada konsep buah, daun, batang, dan lainnya. Itu sudah ada. Tapi dia dibungkus dalam biji nangka. Nah, hakikat muhammadiyah baru ada kalau buah itu ditanam, tumbuh, dan betul-betul menunjukkan ada konsep daun, batang, akar, dan lain sebagainya.
Jadi, konsep nur muhammad itu tidak bermakna eksklusif bahwa penciptaan harus lewat jalur Nabi Muhammad. Menurut Siti Jenar, seluruh makhluk, apa pun agama dan jenisnya, berasal dari konsep nur muhammad itu.
Bagaimana sikap Siti Jenar terhadap keragaman budaya lokal di Jawa? Dia justru mengakomodasi itu semua. Karena itu, terhadap agama Kapitayan, agama tauhid pra-Hindu, dia langsung ambil-alih. Bagi dia, untuk menyebarkan Islam, ini sama saja. Tapi dia juga memodifikasi. Kalau untuk menyembah Tuhan, bagi dia tak usah pakai istilah salat. Sebab, agama Kapitayan sudah pakai istilah sembah Hyang. Kata itu lalu dipakai. Hyang itu dalam bahasa Kawi artinya dewa.
(http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=285730)
Yusman Roy adalah mantan petinju profesional dan sekaligus bisa dibilang sebagai anak nakal yang tobat, ia dipenjara karena menjalankan salat dengan dua bahasa.
"Sholat Dua Bahasa"
Yusman Roy sudah satu setengah tahun dipenjara gara-gara mengajarkan salat dua bahasa. Tetapi, apa pandangan dia tentang akhlak dan keberagamaan? Berikut perbincangan Kajian Utan Kayu (KIUK) dengan Pengasuh Pondok Iktikaf Ngaji Lelaku, Malang itu, di Kantor Berita Radio 68H Jakarta, beberapa waktu lalu.
Bagaimana awal mula Anda mengenal agama? Sebenarnya ini berawal semata-mata dari faktor usia. Sejak remaja, sudah ada kesadaran pada diri saya tentang perlunya melakukan kebaikan. Terus terang, saya cemburu pada teman-teman yang bisa berkelakuan baik dan punya moralitas tinggi. Ini terjadi sekitar 1980-an.
Karena itu, saya turun dari ring tinju (Roy adalah mantan petinju profesional) setelah sempat memecahkan rekor tercepat KO tinju profesional di Indonesia.
Selanjutnya bagaimana? Dari sana saya mulai iri melihat teman-teman yang berkelakuan lebih baik dari saya. Lalu saya mulai mempelajari agama dan membaca Alquran yang ada terjemahannya. Saya juga mulai belajar bahasa Arab.
Alhamdulillah, setelah itu saya jadi tahu persis bahwa segala sesuatunya akan kembali kepada kekuasaan Allah. Allah berfirman, "Allah akan menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya." Hal ini tak bisa ditawar-tawar. Allah berkenan memberi petunjuk dan membimbing saya, sehingga pintu hati saya dibukakan untuk memahami Islam.
Sebelum memeluk Islam, seperti apa riwayat keberagamaan Anda? Bapak saya Islam, tapi ibu saya keturunan Belanda memeluk Katolik. Karena itu, di masa kecil, saya Katolik. Tapi, pilihan beragama pada waktu itu bukan atas dasar kesadaran, tapi lebih karena ikut-ikutan.
Karena itu, saya belum bisa merasakan kenikmatan beribadah kepada Allah. Secara otomatis kenakalan-kenakalan masa kecil tak bisa dihindari, sampai memasuki usia remaja dan menjalani profesi sebagai petinju.
Jujur saya katakan, saya pernah hidup di masa jahiliah. Artinya, terlalu bebas dan tidak memakai aturan-aturan. Tapi, itu bagian dari hidup saya yang tidak bisa dipisahkan. Itu juga hal yang patut saya syukuri.
Saat melihat anak-anak nakal, saya tak terlalu pesimistis. Saya tetap punya harapan. Sebab, diri saya yang dulu nakal nggak ketulungan, toh bisa sadar dan berhenti juga. Dan, Alhamdulillah, tiba-tiba Allah membukakan pintu hati saya untuk berijtihad dengan gagasan salat dua bahasa yang diterima sebagian kalangan muslim.
Anda ingin menekankan bahwa dalam kehidupan itu ada fase-fase atau terminal-terminal yang harus dilalui orang? Ya. Itu saya katakan sesuai dengan filsafat Jawa: aja dumeh. Maksudnya, kalau melihat sesuatu yang kurang pas, janganlah terlalu dikecam, tapi kita arahkan ke arah yang lebih baik. Istilahnya, selalu bil hikmah atau dengan kearifan.
Jangan bertindak diskriminatif karena itu tak akan memberi kesempatan kepada orang untuk berbuat baik. Berikan orang kesempatan berbuat baik. Caranya banyak.
Misalnya? Dalam hidup, saya sudah terbiasa melihat anak-anak nakal. Kuncinya: bagaimana kita, sebagai orang tua, mengarahkan yang muda tanpa rasa sakit hati. Kebanyakan orang tua nelangsa ketika melihat anak muda yang nakal. Mungkin itu karena tidak ada pembekalan yang cukup pada orang tua tentang bagaimana mendidik anak yang tak cocok dengan keinginannya. Padahal, itu justru memukul hati sendiri. Biarlah sang anak berkembang sendiri.
Adakah guru yang ikut membimbing Anda masuk Islam dan menginspirasi untuk punya gagasan tertentu tentang Islam? Awalnya saya mengaji syariat dasar kurang lebih lima belas tahun. Setelah itu saya tingkatkan lagi dengan mengambil jurusan bil hikmah. Itu lima tahun, dengan seorang kiai yang cukup ternama di Surabaya dan Malang. Jadi, 20 tahun saya menuntut ilmu. Setelah 20 tahun menuntut ilmu, saya lalu mengemas gagasan untuk memperbaiki kualitas salat, baik sendiri maupun berjamaah.
Mengapa secara spesifik memilih salat? Dari sanalah saya berangkat memperbaiki akhlak saya pribadi. Salat itu tiangnya agama. Dan dalam agama dikatakan juga bahwa Inna as-shalâta tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar (sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan buruk dan kemunkaran)". Itu tercantum dalam Alquran surat 29: 45. Jadi, saya ingin ada pembentukan karakter melalui salat.
Tapi salat jenis apakah yang Anda maksud? Memang tidak sembarang salat. Tiwas orang sudah kelihatan aktif salat, tapi karakternya tetap tak berubah; masih tetap ada kefasikan-kefasikan. Ini sungguh menusuk hati saya. Banyak orang yang aktif salat, tapi juga jadi penjahat besar. Setelah saya dekati, ternyata benar apa yang saya prediksi: mereka melafalkan bahasa Arabnya saja. Mereka tak tahu artinya. Inilah yang jadi masalah.
Padahal, dalam Alquran surat al-Ma’un (4-5), Allah berfirman: Fawailun lil mushallîn, alladzîna hum `an shalâtihim sâhun (celakalah pelaku salat yang melalaikan salatnya). Lalai di sini banyak aspeknya. Bisa juga karena tidak tahu konsekuensi dari apa yang dibaca dan apa yang didengarnya.
Maksudnya? Bisa saja orang terbiasa mendengarkan imam dalam salat. Tetapi, bisa jadi sang makmum tidak paham maksud dan pesan dari ayat-ayat yang dibacakan imam. Karena itu, tidak ada yang bisa diingat. Dari sanalah saya menyimpulkan adanya orang yang gagal salat, dan itu celaka betul.
Dalam surat Maryam ayat 59, Allah berfirman: "Maka datanglah sesudah mereka golongan yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka mereka kelak akan menemui kesesatannya."
Menurut saya, orang yang menyia-nyiakan salat itu jumlahnya cukup lumayan, termasuk saya sendiri dulu. Akibatnya, banyak orang yang salat, tapi masih melakukan kejahatan.
Bagi saya, hanya salat yang berkualitaslah yang bisa membuat orang berakhlak karimah. Saya membuktikan, dengan memperbaiki kualitas salat, kehidupan saya ternyata mulai stabil. Dari sana saya mulai menular-nularkan pengalaman kepada orang lain.
Kapan fase kesadaran itu tumbuh? Sesudah dewasa, ketika saya sudah punya anak dan mulai mengasuh sebuah pondok di Malang. Pondok itu saya bangun untuk menampung teman-teman yang datang dengan membawa berbagai masalah. Ada yang sumpek, karirnya gagal, dan sebagainya.
Mereka saya arahkan untuk salat dengan memahami apa yang dia baca dalam salat yang menggunakan bahasa Arab.
Menurut Anda unsur apa dari agama yang paling penting? Tentu saja budi pekerti. Kalau kita berangkat dari agama yang konsisten, akan ada buahnya, yaitu adanya akhlak yang karimah. Nabi Muhammad sendiri menyatakan bahwa dia diutus untuk menyempurnakan budi pekerti. Jadi inti dari agama itu ada pada akhlak.
Nah, bagi kita yang beragama impor ini sudah barang tentu harus paham arti dan isi pesannya. Kalau bahasanya saja kita tidak tahu, bagaimana kita bisa menghayati isinya.
sumber: http://muslim.multiply.com
"Khadeejah bint Khuwaylid" One of the Greatest Woman on Islam
They are numerous blessed and great women. Foremost among them is that intelligent and wise woman, Khadeejah bint Khuwaylid, the religious and noble woman. She grew up upon virtuous characters and manners. She was chaste and gracious. She was known among Makkah womenfolk as ‘the pure woman’. The Messenger of Allaah married her and she became an excellent wife for him. She supported him with her life, wealth and wisdom. During his sorrowful days, he would seek shelter with her and confide in her.
When the first revelation came to him he went to his wife frightened, and he said, “O Khadeejah, I fear for myself.” But Khadeejah responded to his fear with a firm heart. She told him, “By Allaah, Allaah will not disgrace you.”
Islaam started in her house and she was the first person to embrace it. Ibn al-Atheer said, “Khadeejah was the first person to embrace Islaam, according to the consensus of the Muslims. No man or woman ever embraced Islaam before her.”
At the beginning of the Prophet’s mission, he was faced with many tribulations. But she stood by him compassionately and supported him with her outstanding intelligence. Whenever he heard any undesirable words from the people and came to her, she would strengthen and console him. The Prophet said about her: “She believed in me when people denied me, she trusted me when people belied me; she supported me with her wealth when people refused to support me and I was blessed with children by her when I was denied children by other women.” (Ahmad)
Khadeejah was a great and dutiful wife to her husband and an affectionate mother to her children. She gave birth to all the Prophet’s children except Ibraaheem. She was extremely good-mannered. She never argued with her husband and she never bothered him. The Messenger of Allaah said: “Angel Jibreel came to me and said: ‘Give Khadeejah the good tidings that she will have a palace made of hollowed pearls in Paradise and there will be neither noise nor any trouble in it.’” (Al-Bukhaaree and Muslim)
As-Suhaylee said, “She was given the glad tiding of a house in Paradise because she never raised her voice over that of the Prophet and she never bothered him.” She was pleased with her Lord and Allaah is pleased with her.
The Prophet said, “Angel Jibreel told me: ‘When you come to Khadeejah, convey my Lord’s greetings to her and mine as well.” (Al-Bukhaaree and Muslim) Ibn al-Qayyim said, “Khadeejah was the only woman known to have this honour.”
Allaah loved Khadeejah, so did His angels. The Messenger of Allaah also loved her so much. He said: “I am blessed with her love.” (Muslim)
Whenever the Prophet remembered her, he would mention her in glowing attributes and would show gratitude for her companionship. ‘Aaishah said, “Whenever the Messenger of Allaah remembered Khadeejah, he would never be tired of praising her and invoking Allaah’s forgiveness for her. He appreciated her love and sincerity and he would honour her friends after her death.” ‘Aaishah said: “ He would often slaughter a goat, cut it into parts and distribute it to Khadeejah’s friends. And whenever I asked him, ‘Are there no other women in the world except Khadeejah?’ He would say, ‘She was this and that and she bore me children.’” (Al-Bukhaaree)
After her death, Allaah’s Messenger heard her sister’s voice. He them became sad and said, “She reminded me of Khadeejah.”
Khadeejah was perfect in her religion, wisdom and conduct. The Prophet said: “Many men attained perfection, but only three women attained it: Maryam, daughter of ‘Imraan [Jesus’ mother], Aasiyah, Pharaoh’s wife and Khadeejah bint Khuwaylid.” (Ibn Mardooyah)
She preceded the women of this Ummah in righteousness, nobility and splendour. Allaah’s Messenger said: “Maryam [Mary, Jesus’ mother] was the best woman of her time, and the best woman of this Ummah is Khadeejah.” (Al-Bukhaaree and Muslim)
Khadeejah was righteous and made her home righteous. She reaped the fruit of her labour and she and her daughter became the best of the women of the worlds in Paradise. The Prophet said: “The best f the women of Paradise are: Khadeejah, Faatimah, Maryam [Mary] and ‘Aasiyah.” (Ahmad and An-Nasaa’ee)
She occupied a great place in the Prophet’s heart. He did not marry any woman before her neither did he marry any woman or have any concubine while she was still with him until she died. He was extremely distressed with her death. Adh-Dhahabee said, “Khadeejah was intelligent, gracious, religious, chaste and noble. She is one of the dwellers of Paradise.”
Beragama yang Tidak Korupsi Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak “Ndeso” Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?“ Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.” “Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya. “Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun. “Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi. Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu. Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini.
Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.
Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?” Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran. Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya
Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang. Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama. Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan. Ekstrinsik VS Intrinsik Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, “Ia di neraka.” Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial. Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport. Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya. Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang. Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama. Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan. Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis. Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi. Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit.
Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama..
Got this article from my e-mail.. emang sebaiknya jangan lah, karena kita cenderung memutus lafadz tersebut ditengah-tengah, jadi kalimat nya bisa beda arti.. klo emang mau dengerin mending dicopy aja ke music player, jadi bisa pake didengerin pake headset.. Insya Allah.. lebih khusyuk
----- Lafadz Al-Qur’an dan Adzan sebagai ringtone
Telah berkembang luas akhir-akhir ini, pada sebagian umat Islam fenomena menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan sebagai ring tone di telepon dan ponsel mereka. Dengan tujuan menjauhi ringtone musik yang diharamkan. Akan tetapi, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi dia tidak mendapatkannya.
Ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan, sesungguhnya adalah lafadz-lafadz yang digunakan dalam beribadah. Allah subhanahu wa ta’ala sudah menjadikannya terkait dengan hukum-hukum syari’at, baik qira’ah Al-Qur’an atau sebagai panggilan untuk shalat. Sebagaimana telah terjelaskan dalam hadits yang menerangkan tentang itu.
Dari Malik bin Al-Khuairits radhiallahu ‘anhu ia berkata, Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Jika telah datang waktu shalat, maka hendaklah salah seorang di antara kalian adzan.“ [HR. Bukhari dan Muslim.]
Demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,
“Sesungguhnya Bilal menyerukan adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum menyeru (adzan). “
Maka prinsip dasar kita dalam beragama adalah ittiba’ (mengikuti sunnah) bukan ibtida’ (menambah atau mengurangi sunnah). Andaikan agama ini berdasarkan pendapat dan hawa nafsu, maka adzan yang lebih utama tentu untuk shalat ‘Ied atau khusuf (shalat gerhana) daripada shalat lima waktu.
Maka karena dasar agama ini adalah mengikuti sunnah (Rasulullah), maka menjadikan ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan untuk ring-tone HP dan sejenisnya adalah sudah termasuk mempermainkannya dan termasuk hal yang sia-sia. Adapun pelakunya telah masuk dalam firman Allah :
“Dan berkata rasul, “Wahai Rabb sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sebagai yang disia-siakan.” (QS. Al-Furqon: 30).
Hendaknya setiap kita mengetahui, bahwasanya dzikir kepada Allah akan dinilai sebagai ibadah jika dilakukan dalam bentuk yang disyariatkan bukan dengan perkara yang diada-adakan. Sesungguhnya syarat suatu amalan adalah ittiba’1 dan ikhlas.
Tidaklah masuk akal, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Qur’an untuk dijadikan ring-tone untuk menandai adanya penelpon. Dan barangsiapa yang merasa melakukan demikian itu karena senang mendengarkan Al-Qur’an, maka kami katakan, Sesungguhnya mendengarkan Al-Qur’an ada beberapa jalan. Di antaranya adalah melalui kaset dan radio. Maka orang yang meletakkan kaset dalam tape pasti dia berniat untuk mendengarkannya. Akan tetapi siapa yang menggunakannya sebagai ring-tone HP, justru mempunyai tujuan lain, yaitu sebagai tanda adanya penelpon, dan inilah yang dilarang.
Andaikan saja seseorang ingin mendengarkan Al-Qur’an sedang dia berada di tempat yang najis, maka kita katakan bahwa perbuatan ini tidak pantas bagi Al-Qur’an sehingga dia tidak boleh mendengarkannya.
Jika dia membantah dengan alasan ingin mendengarkan Al-Qur’an, hal ini pun tidak dapat dibenarkan karena tidak diperdengarkan dengan cara yang benar. Kenyataannya, begitu ayat berbunyi langsung dimatikan karena memang tujuannya bukan mendengarkan ayat. Belum lagi bila si empunya HP ini tidak mengerti arti dari ayat yang dibacakan atau karena tergesa-gesa, kemudian memutuskan/memenggal nada deringnya maka akan merubah makna/arti ayat tersebut. Misalnya: menggunakan nada dering dengan lafaz “LAA ILAAHA ILLALLAH” (Tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah) kemudian diputus - entah langsung menerima panggilan atau di diskonek - berubah menjadi lafaz “LAA ILAAHA” (tiada ilah), maka lafaz ini berubah menjadi lafaz kekufuran. Juga dengan ayat-ayat lain dari surat alqur’an, adzan, dsb.
Musibah yang ditimbulkan dari perbuatan ini tidak terhenti pada hal ini saja tetapi akan berimbas pada yang lain. Lihat saja ketika datang telepon dari seseorang, sangat mungkin HP yang sedang memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan itu akan segera dimatikan. Bahkan dia (penerima) menggerutu dan kesal setiap kali ring-tone itu berbunyi2, padahal ring-tone-nya adalah bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan. Seandainya ada yang membela diri bahwa dia matikan HP dan menggerutu karena adanya penelpon yang tidak disukainya, bukan karena ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan tadi, maka kami katakan, Akan tetapi perbuatan yang anda lakukan ini terjadi pada ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan yang anda jadikan sebagai ring tone, maka mengapa anda jadikan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz-lafadz adzan sebagai sasaran? Apakah ini termasuk memuliakan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan?
Allah berfirman, :
“Dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka dia termasuk dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Haj: 32).
Oleh karenanya dalam hal ini, lebih utama bagi seseorang untuk mengganti ring-tone-nya dengan suara-suara yang lain. Inilah jalan yang lebih selamat bagi semuanya.
Sumber : http://vbaitullah.or.id/content/view/688/89/
1. Ittiba' adalah mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam melakukan suatu amal.
Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan. Namun, rupanya tahun ini Allah punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. Dan kali ini Allah pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar dan istimewa. Aku berdoa agar diberikan kekuatan...Namun, Allah memberikanku cobaan agar aku kuat menghadapinya. Aku berdoa agar diberikan kebijaksanaan...Namun, Allah memberikanku masalah agar aku mampu memecahkannya. Aku berdoa agar diberikan kecerdasan...Namun, Allah memberikanku otak dan pikiran agar aku dapat belajar dari-Nya. Aku berdoa agar diberikan keberanian...Namun, Allah memberikanku persoalan agar aku mampu menghadapinya. Aku berdoa agar diberikan cinta dan kasih sayang..... Namun, Allah memberikanku orang-orang yang luka hatinya agar aku dapat berbagi dengannya. Aku berdoa agar diberikan kebahagiaan...Namun, Allah memberikanku pintu kesempatan agar aku dapat memanfaatkannya.
Serial Ki Bijak "Kenapa Manusia Harus Beriman?" (agak panjang sih, jadi mbacanya kalo pas ngga sibuk ya.. hehe...) ---------------- “Assalamu’alaikum...................” Uluk salam dari Ki Bijak diluar pagar rumah Muala. “Walaikumusalam warahmatulahiwabarakatuh........” Jawab Maula sambil bergegas menuju pintu, demi mengenal suara dari orang yang memberi salam diluar sana. “Aki, masuk ki..............” Kata Maula sambil menyalami tangan gurunya. Dua orang guru dan murid itu kemudian beranjak masuk keruang tamu, yang ketika itu nampak lengang, yang ada hanya beberapa buah buku yang berserakan sehabis dibaca. “Pada kemana Nak Mas, kok sepi......?” Tanya Ki Bijak. “Sudah pada tidur Ki, mungkin kelelahan, tadi siang lari-larian terus............” Jawab Maula. “Nak Mas sendiri sedang baca buku apa, banyak sekali....................?” Tanya Ki Bijak sambil memperhatikan beberapa buku yang tampak dimeja. Maula terdiam sebentar, ia agak ragu untuk mengatakan hal apa yang tengah dicarinya dibuku-buku yang barusan dibacanya. “Anu Ki, tadi sore Dinda menanyakan kepada ana, “Pah, kenapa manusia harus beriman Pah...?” Kata Muala menirukan pertanyaan putri sulungnya. “Lalu Nak Mas.........?” Tanya Ki Bijak. “Iya Ki, besok Dinda ada ulangan pelajaran agama, salah satu soal latihannya adalah pertanyaan tadi Ki, ana agak susah untuk menjelaskannya, karena jujur, ana tidak siap dengan pertanyaan seperti itu.............” Kata Maula. Ki Bijak tersenyum, “Lalu Nak Mas coba mencari jawabannya dibuku-buku ini......” Tanya Ki Bijak. “Ya Ki, ana tadi baca beberapa buku yang mungkin bisa membantu ana menjawab pertanyaan Dinda tadi.........” Kata Ki Bijak. “Sudah ketemu Nak Mas..............?” Tanya Ki Bijak. Maula menggeleng, “Belum Ki........” Jawabnya pendek. “Nak Mas, boleh Aki tahu kenapa sebelum membangun rumah, hal pertama yang harus dibuat adalah pondasinya dulu...?” Tanya Ki Bijak. “Ya karena rumah yang dibangun tanpa pondasi yang kuat, akan mudah roboh ki, mungkin hanya karena angin yang tidak terlalu besar, rumah itu akan roboh, atau ketika beban diatasnya terlalu berat, rumah itu juga rentan untuk ambruk, jadi menurut ana, kekuatan pondasi sebuah rumah, akan sangat menentukan kokoh tidaknya bangunan yang ada diatasnya, bukan demikian ki.........” Kata Maula berhati-hati. Ki Bijak tersenyum, “Nak Mas benar, setinggi apapun bangunan yang akan dibangun, akan sangat tergantung pada pondasinya dulu, ketika pondasinya kokoh, gedung bertingkat puluhan pun mampu berdiri dengan kokoh, sebaliknya, rumah yang dibangun tanpa pondasi yang kuat, tidak akan kuat menahan beban diatasnya, meskipun beban itu tidak terlalu berat.........” Kata Ki Bijak. “Nak Mas pernah perhatikan pepohonan disekeliling kita...?” Tanya Ki Bijak. “Ya Ki.........” Jawab Maula. “Pohon beringin yang didepan balai desa itu misalnya, untuk bisa menahan beban batangnya yang besar dan daunnya yang lebat dan rindang, pohon beringin memiliki akar yang kuat, selain menghujam kedalam tanah, akar serabutnya juga menjalar disekililing pohon itu, sehingga pohon itu bisa tetap kokok meskipun hujan deras dan angin lebat dan panas terik matahari menimpanya sepanjang musim............” Kata Ki Bijak. “Nak Mas bayangkan jika pohon beringin itu tidak memiliki akar yang kuat, pohon itu pasti akan tumbang, tidak mampu menahan berat batang dan dahan serta dedaunannya......” Kata Ki Bijak. Maula nampak tercenung sejenak, “Lalu ki........?” Tanya nya sejurus kemudian. “Kembali kepada pertanyaan Dinda tadi, “kenapa manusia harus beriman”, karena iman yang benar dan kuat, laksana pondasi yang kokoh dalam struktur sebuah bangunan, karena iman yang sehat, laksana akar pohon yang menghujam ketanah dan mengakar yang mampu menopang beban batang dan pohonnya..........” Kata Ki Bijak. “Shalat yang dilaksanakan tanpa dilandasi oleh keimanan yang benar, sama sekali tidak akan memberi “kesan” apapun bagi yang melakukannya, shalat yang tidak dilandasi iman yang benar, tidak akan mampu mencegah perbuatan keji dan munkar, meskipun secara lahiriah, mungkin ia orang yang sangat rajin kemasjid misalnya, tapi sekali lagi, tanpa iman yang benar dan kuat, tanpa pondasi yang kokoh, tanpa akar yang menghujam, bangunan shalatnya akan sangat rentan dari keruntuhan, pohon shalatnya akan sangat rentan untuk tumbang diterpa angin kemaksiatan, istilahnya STMJ............” Kata Ki Bijak “STMJ..? Apa itu ki........?” Tanya Maula Sambil tersenyum Ki Bijak menjawab “STMJ itu Shalat Terus Maksiat Jalan”, karena itu tadi, shalatnya tidak memiliki pondasi iman yang benar dan kuat.........” Sambung Ki Bijak. “Pun demikian halnya dengan Zakat yang dibayarkan tanpa dilandasi oleh keimanan yang benar, cenderung melahirkan muzaki atau “dermawan gadungan”, yang zakatnya tidak lebih dari perbuatan riya atau untuk mendapatkan pujian dari orang lain atau pamrih dan kepentingan sesaat, sekali lagi, tanpa iman yang benar, tanpa pondasi yang kokoh, tanpa akar yang kuat, semua amal yang dilakukan sangat mungkin tidak mendapatkan imbalan pahala disisi Allah swt kelak.......” Kata Ki Bijak. “Puasa yang dilaksanakan tanpa keimanan yang benar, tidak lebih sebuah penderitaan untuk menahan haus dan lapar, tak akan bisa mencapai esensi puasa sebagai sarana pelatihan untuk mengendalikan iradah kita, pelatihan ketaatan kita, pelatihan untuk bisa memahami dan mengaplikasikan nilai-nilai ketuhanan dalam keseharian kita, puasa yang tidak dilandasi pondasi iman yang kokoh dan akar keyakinan yang kuat, tidak lebih seperti puasanya ular, yang ketika selesai puasa justru tambah rakus dan ganas.......” “Pergi haji yang dilaksanakan demi mengejar titel semata, tanpa dilandasi pondasi iman yang kuat, hanyalah penghamburan uang tanpa makna, karena mereka yang melandasi ibadah hajinya dengan keimanan sajalah yang akan memperoleh janji Allah yaitu mendapatkan surga-Nya............” Kata Ki Bijak. “Demikian penting posisi keimanan dalam kehidupan kita ya ki.........” Kata Maula. “Bahkan sangat-sangat penting Nak Mas, kalau Aki boleh bilang, iman adalah ruh kehidupan kita, ketika iman tidak lagi kita miliki, sesungguhnya pada saat itu kita sudah ‘mati’....., mungkin jasad kita masih bergerak, mungkin kita masih kelihatan “rajin shalat’, masih taat zakat, masih melaksanakan puasa, bahkan berulang kali pergi haji, tapi ketika ruh semua ibadah yang kita lakukan tersebut tidak lagi ada pada saat kita melakukannya, semuanya akan menjadi mubazir dan sia-sia............” Kata Ki Bijak. “Ki, lalu kenapa justru Dinda yang mendapat pertanyaan seperti itu ki..........?” Tanya Ki Bijak tersenyum, “Itu hanya salah satu cara Allah untuk mengingatkan kita, Nak Mas......” Kata Ki Bijak. “Untuk mengingatkan kita ki......?” Tanya Maula keheranan. “Ya Nak Mas, syari’atnya pertanyaan itu memang disampaikan kepada Dinda, tapi Aki justru melihat pertanyaan itu untuk kita, untuk Nak Mas, untuk Aki, bahkan untuk semua orang Nak Mas...........” Kata Ki Bijak. “Ana masih belum paham benar ki.............” Kata Maula. “Nak Mas, seperti tadi Aki katakan, bahwa iman adalah merupakan “ruh” bagi kehidupan kita, hingga tanpa iman yang benar, kita akan kehilangan “arah” dan pijakan dalam kehidupan ini......” “Seseorang yang menjadi presiden, yang tidak dilandasi dengan iman yang kuat, dalam arti dia tidak mempercayai rukun iman yang enam, cenderung untuk menjadi seorang diktator, merasa paling berkuasa, dan bisa berbuat apapun dengan kekuasaanya, ketiadaan iman akan mengakibatkan dia kehilangan kontrol dan kendali terhadap kekuasaan yang dipegangnya.............” “Seseorang yang menjadi pejabat, sementara ia tidak memiliki iman yang kokoh, cenderung akan menjadi seperti Haman, pejabat yang doyan menjilat, pejabat yang suka makan uang rakyat, pejabat yang “menjual” undang-undang dan peraturan demi kepentingan pribadi dan golongannya....” “Seseorang yang menjadi pegawai, sementara imannya lemah, maka pegawai itu akan cenderung menjadi pemalas, pegawai yang suka mencari muka didepan atasan demi gaji dan jabatan, tak peduli dengan teman dan kawan...........” “Jadi apapun kita, ketika iman yang merupakan pondasi dan ruh kehidupan kita tidak ada, maka semuanya tidak akan bermakna apa-apa disisi Allah dan dimata manusia.........” Kata Ki Bijak. “Jadi Ki...........” Tanya Maula. “Jadi pertanyaan “kenapa manusia harus beriman” yang Dinda ajukan kemarin adalah sebuah pertanyaan yang “seharusnya” kita tanyakan pada diri kita masing-masing, seberapa besar dan kuat kualitas iman kita, bahkan seharusnya lagi, pertanyaan itu kita ajukan sebelum kita mengajukan pertanyaan pada diri kita ingin jadi apa, karena tanpa iman, apapun yang kita sandang, semuanya tidak lebih dari aksesoris yang menipu diri sendiri.........” Kata Ki Bijak. “Terima kasih Nak, kau ajari papa sesuatu yang demikian berharga.....” Guman Maula, matanya menerawang, membayangkan wajah lugu putri cantiknya. Hari makin beranjak malam, Ki Bijak pamitan pulang, sementara Maula masih berdiam sejenak mengulas apa yang baru diterimanya dari putri dan gurunya hari itu.
| |