pipi's posts with tag: kritis

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag kritis
Blog EntryMau Bagaimana Lagi?May 12, '08 11:08 PM
for everyone

Hari ini sama saja seperti hari lainnya...

Dengan kesibukan masing-masing penghuni kota ini. Kesibukan cagub dan cawagub disini tidak kalah dengan kesibukan perempuan-perempuan yang sedang tertidur pulas di kompleks lokalisasi. Bedanya cuman di soal ”jam kerja” saja menurut saya. Belum lagi kesibukan ibu-ibu yang harus meng-update informasi minyak tanah murah hari ini, ga banyak beda juga dengan kesibukan keluarga Amrozi yang kemarin melangsungkan pernikahan jarak jauh menjelang detik-detik terakhir sebelum dia dihukum mati (udah mau dieksekusi kok masih mikir kawin yah... ga abis pikir deh gua!?)

Berita di koran pun tidak banyak berubah. Penuh kritik, penuh air mata, bunuh-bunuhan, dan masih seputar musibah di Asia yang belum berhenti tapi malah menyebar kemana-mana. Habis Myanmar, sekarang Cina. Yang satu topan, yang satu gempa. Jadi inget lagunya Ebiet, mungkin betul Tuhan udah bosan ama ulah manusia yang kebanyakan dosa. Dan mentang-mentang menyambut 100 Tahun Kebangkitan Bangsa, semua media berlomba-lomba mengupas bobrok negara kita (padahal tanpa dikupas rasanya sudah banyak yang tau yah, kan ngrasain sendiri...?) Tapi sayang, menurut saya kok hanya sedikit yang memberi solusi maupun inspirasi.

Jadi, saya sering bingung, perubahan itu harus dimulai darimana (selain dari diri sendiri tentunya). Dan apa yang bisa dilakukan orang-orang yang banyak nganggur (seperti saya ini) demi perubahan itu. Kan katanya walaupun sedikit yang penting berarti. Tapi yah sudahlah, sepertinya kita memang belum diperkenankan untuk tersenyum saat ini.

Matahari (sengaja pake warna kuning biar silau, hehe..) di kota pahlawan pagi ini juga masih sama panasnya, menyengat diatas kepala pengendara sepeda motor yang setiap harinya berkeliling kota menjajakan barang jualannya. Kebut-kebutan di jalan raya, rebutan jalan sama pegawai negeri, anak-anak sekolah dan mobil mewah (milik orang tua) mahasiswa kaya raya, yang semuanya ingin cepat mewujudkan apa yang selama ini hanya menjadi angan-angan dan khayalan. Padahal, dari sudut skeptis, beberapa tahun kedepan, keberadaan mereka hanya akan menambah jumlah pengangguran di kota terbesar kedua setelah Jakarta ini.

Tapi ada juga yang damai ditengah gegap-gempita kesibukan kota ini. Yang semalam habis bergadang, masih terlelap di alam mimpi, membayangkan ketemu eSBeYe yang kemaren bikin macet jalanan kota kami. Nah.. yang semalam habis bersenang-senang, terpaksa bangun pagi dan akhirnya harus berangkat dengan mata setengah terpejam, pagi ini. Padahal sudah habis satu gelas kopi.

..mau bagaimana lagi?











"dipenjara karena menulis dengan hati"

Waktu lagi iseng browsing ke salah satu blog, ga sengaja terbaca ungkapan hati seorang wanita Malaysia bernama Marina Lee Abdullah, istri dari salah satu orang paling terkenal di Malaysia saat ini (probably also most popular around the Malaysian blogging world today) "Raja Petra Kamarudin" alias RPK. Gua cuman ada 1 pertanyaan.. "Why the hell is Malaysian police so cruel to foreigners??"

Who ?

"Raja Petra Kamarudin.". a.k.a "RPK" adalah salah satu pengelola blog "Malaysia Today" dan pada salah satu tulisannya yang dimuat di situs tersebut pada tanggal 25 April 2008 dengan judul "Let’s send the Altantuya murderers to hell" , RPK menuangkan kekesalannya terhadap hasil sementara dari pengadilan seputar pembunuhan sadis nan tragis seorang wanita professional escort asal Mongolia bernama Altantuya Shaariibuu yang terjadi di bulan Oktober 2006, dan konon melibatkan beberapa orang petinggi Malaysia dan oknum polisi, diantaranya Najib Razak (who is also known as Najib Abdul Razak) yang ketika itu masih menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Malaysia.

And Now What?

Well.. Akibat tulisannya tersebut, pada tanggal 6 May 2008 kemarin, RPK ditahan oleh pihak pemerintah Malaysia karena dianggap telah menyebarkan fitnah dan hasutan terhadap orang-orang tertentu di pemerintahan Malaysia. Walaupun demikian, kejujuran yang diungkapkan oleh RPK banyak menuai dukungan dari berbagai pihak sehingga banyak masyarakat yang bersimpati terhadap RPK.

Meskipun dukungan moril maupun materil dalam bentuk donasi terhadap RPK dan keluarga terus-menerus bertambah, RPK sempat menolak untuk membayar denda yang akan membebaskan dirinya dari penjara Sg. Buloh, ia bahkan menolak untuk bertemu dengan istri dan keluarga yang datang berkunjung dan sempat melakukan aksi mogok makan. Namun update terakhir menyebutkan bahwa ia sudah menyetujui pembayaran denda tersebut setelah bertemu istrinya siang ini.

What Exactly Does He Wrote?

Tulisan selengkapnya bisa dibaca sendiri disini. Sepintas setelah saya baca, terlihat jelas bahwa RPK mengecam keras pihak pengadilan Malaysia. Ia bahkan menganggap "the trial is a show-trial" karena menurutnya banyak keanehan demi keanehan yang terjadi selama proses persidangan. Mulai dari beberapa kali pergantian jaksa dengan alasan yang tidak jelas, serta pengunduran waktu yang terlalu lama dengan alasan kebutuhan untuk mempelajari kasus lebih lanjut.

Selain itu, RPK juga menyebutkan perihal lenyapnya berbagai bukti seperti foto Razak bersama Altantuya dan tulisan tangan Razak saat melancarkan usaha perolehan visa bagi Altantuya yang semuanya tiba-tiba menghilang. Menurut RPK, bukti-bukti tersebut memang sengaja disimpan oleh Abdullah Ahmad Badawi (PM Malaysia). RPK dengan gamblang menuliskan "This is about the Prime Minister of Malaysia withholding crucial evidence in a murder trial.."

Bottom Line

whoa.. clap your hands guys.. he is one crazy writer isn't he..!!?? brave enough to speak his mind, i think. . Brave enought to defend the truth! And, buat yang udah baca artikel RPK, mungkin familiar dengan quote ini.. "opinions are like assholes -- everybody has one but no two are alike.."  hahaa... cukup masuk akal.. :D

Yang seru dong.. E-mail dari Din Merican (one of RPK's friend). yang mengungkapkan penyesalan pribadi Din atas beberapa tindakan brutal yang terjadi di Malaysia, terutama kekerasan terhadap warga asing yang juga terjadi sama orang Indonesia.. Mulai dari kasus karate sampe kasus TKW.

As Din said: "We are being viewed as arrogant by the Indonesians, Thais, Singaporeans, as well as by many of our neighbours. Now, we add to this list the Mongolians. How indecent and irresponsible of the PM and his Foreign Minister for not even acknowledging the receipt of letters from their Mongolian counterparts. Who are we protecting?"

hell yeah... kenapa juga baru sadar kalo arogan... hahaha..
and now my mind goes wandering..
what if the same thing happen in Indonesia?

**image taken from here

Blog Entryketika alam murka...Jan 3, '08 11:35 PM
for everyone
Pergantian tahun 2007 ke 2008 harus dimulai dengan dahi berkerut dan elusan dada, ketika kita menyaksikan pemberitaan mengenai bencana alam yang terjadi di negara ini. Mulai dari banjir, tanah longsor, dan terakhir kemaren malem adalah meluapnya lumpur lapindo sampai menutup akses jalan raya surabaya-malang. Pertanyaan singkat.. "salah siapa.. ya?" ** ya ga tau.. siapa biang keladinya..? ya manusia sendiri..

Alam Indonesia sedang murka.. kata siapa? Ada juga yang bilang kalo yang murka bukan alam.. tapi Sang Pencipta alam.. kalo Tuhan sampai murka, berarti sudah sedemikian buruk perilaku masyarakat kita. Apa iya? Terus kenapa yang jadi korban bencana bukan orang-orang yang akhlaknya buruk doang, tapi semua jadi korban. Kalo emang kejadian ini merupakan murka Tuhan untuk "menghukum" manusia yang banyak dosa, kenapa anak-anak kecil dan rakyat biasa (yang dosanya ngga banyak, kali ya...) juga jadi korban? Beda banget sama kisah Nabi Nuh yang waktu itu banjir sengaja "dikirim" sama Tuhan buat menghukum orang-orang kafir.

Bencana yang lagi banyak terjadi... sekarang ini..? semata-mata alur yang masuk akal, antara sebab dan akibat, atau memang juga sudah kehendak-NYA..? karena tanpa disadari, tangan-tangan dan nafsu rakus manusia punya andil sebagai sebab. Hutan ditebangin, harus diakui bahwa penebangan hutan di indonesia termasuk yang paling tinggi di dunia.. alam senantiasa dan terus menerus di eksploitasi dan tindakan pencegahan atau hukman yang jelas dari siapapun????!!

gimana kalo... kita nyalahin pemerintah aja..? mereka tuh, "para pengambil kebijakan" di negara ini.. maksudnya.. yang sampe sekarang belom berhasil menyelesaikan masalah penebangan hutan secara liar. Atau mungkin Pak Presiden SBY musti turun jabatan taun depan? Jangan-jangan.. pendapat sebagian kalangan bahwa beliau pembawa sial ada benernya juga.. heheheheee... padahal udah diruwat.. ya katanya?

Blog Entrymau jadi presiden?Jan 3, '08 11:05 PM
for everyone
KONTROVERSI "SYARAT" CALON PRESIDEN
sumber: http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=319987
(04-January-2008)

Syarat pencalonan presiden tak pernah berhenti diperdebatkan. Topiknya itu-itu saja. Soal kesehatan, tingkat pendidikan, usia, dan status hukum. Ketika salah satu syarat tersebut ditetapkan dengan parameter absolut, tentu ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.

Dalam konstitusi hasil perubahan dinyatakan bahwa syarat calon presiden adalah mampu secara jasmani dan rohani melaksanakan tugas dan kewajiban selama lima tahun ke depan.

Rumusan serupa diadopsi dalam UU No 23 Tahun 2003 mengenai Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. "Rumusannya itu ’mampu’, jadi bukan pada pendekatan fisik, tetapi capability-approach," kata Ali.

Sebelumnya di tengah pembahasan UU 23/2004 juga muncul wacana agar presiden berpendidikan minimal sarjana (S-1). Megawati Soekarnoputri yang saat itu berkuasa dan siap mencalonkan kembali menjadi presiden meradang. Dengan segenap dukungan politik saat itu, dia berusaha agar syarat S-1 dihapus. Akhirnya UU Pilpres hanya mensyaratkan SMA.

Ketua DPR Agung Laksono berpendapat, pada dasarnya syarat calon presiden harus mengalami progress. "Jadi, jangan malah mundur. Kalau dulu SMA, jangan turun SMP, terus pemilu berikutnya SD, lama-lama TK," tandasnya saat jumpa pers di kantornya (2/1).

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa apa pun syarat absolut yang disahkan menjadi UU, akan selalu muncul kontroversi. Sejumlah kalangan mendesak agar syarat-syarat serupa diabaikan saja. Berikan saja kesempatan seluas-luasnya kepada seluruh anak bangsa untuk maju menjadi pimpinan nasional.

Biarlah rakyat yang memilih. "Toh ada mekanisme putaran kedua dalam pilpres. Mekanisme itu akan menjaring siapa yang dianggap terbaik oleh rakyat," ujar pengamat politik Arbi Sanit.

Peta pembahasan UU Piplres tampaknya tidak akan mengubah terlalu besar substansi syarat calon. Kalau begitu, pertanyaannya adalah, siapa lagi yang akan menjadi "korban" UU baru? (candra kurnia/mk)


Blog EntrySepintas Tentang Fanatisme IdeologiDec 27, '07 11:48 PM
for everyone

something came up, crossing my mind... it's about "fanatisme terhadap ideologi dan agama".. so I start googling with those words.. and some of the result are quite fascinating (at least according to me, hehe...)

yang pertama gw dapet dari sini:
www.pikiran-rakyat.com/cetak/0603/04/0803.htm

..kita semestinya bisa belajar dari perdebatan para founding fathers ketika merumuskan dasar negara Pancasila di sidang BPUPKI. Ketika itu, terjadi perdebatan yang cukup serius antara golongan Islam dan golongan nasionalis sekular tentang dasar filsafat ideologi negara. Kalangan Islam menginginkan, bahwa Piagam Jakarta yang terdapat kata-kata "dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi para pemeluknya" harus dimasukkan dalam Pancasila dan batang tubuh UUD 1945. Namun, kalangan nasionalis sekular dan non-Islam mengganggap harus ada pemisahan antara urusan agama dan negara (A. Syafi'i Ma'arif, Islam dan Masalah Kenegaraan, 1995).

Dengan fakta Indonesia yang plural dan terdiri dari banyak agama itu, akhirnya tercapai kata kompromi pada sila pertama Pancasila yang semula hanya berisi Ketuhanan, ditambah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" dan dijadikan sila pertama dari Pancasila. Dengan begitu, sila ini menjadi landasan bagi implementasi dan penjabaran sila-sila selanjutnya. Dan, hal itulah yang menjadi dasar kompromi dan pijakan bahwa meskipun negara kita bukan negara agama, tetapi persoalan agama menjadi persoalan penting dalam tata negara kita.

yang kedua dari blog ini...
http://haqiqie.wordpress.com/2006/06/14/aku-dan-setan-ideologi/

Sebuah ideologi atau agama memang sering memberikan api semangat kehidupan. Atau setidaknya memberikan sejuknya ketenangan. Akan tetapi sebagai manusia, aku masih ngeri membayangkan bagaimana ideologi atau agama itu dapat menjadi pengobar permusuhan dan pertikaian. Dari benak nalarku, tindakan tersebut bukanlah tidak bisa dimengerti, bahkan dari logika situasi pun aku bisa mengerti kenapa hal tersebut bisa terjadi.

Klaim kebenaran antara yang satu dengan yang lain yang dibarengi oleh semangat perjuangan memperjuangkannya menjadikan pertikaian dan perkelahian itu bisa terjadi. Memang telah banyak orang yang menganut ideologi atau agama tertentu menyadari konsekuensi logis dari keyakinannya, sehingga secara lambat laun mereka mengembangkan apa yang sering kita namai dengan sikap toleransi. Membiarkan yang berbeda, menumbuhkan yang sama dalam kedamaian dan keselarasan hidup dan kehidupan mereka yang beda.

Segolongan kelompok selalu mengidentikkan pertikaian atau perkelahian ini pada suatu sikap fanatik terhadap ideologi atau agama yang dianutnya. Islam fanatik, kristen fanatik, budha fanatik, hindu fanatik, dan sebagainya merupakan penamaan dari kelompok-kelompok ini. Secara samar pun kelompok ini juga sering disebut sebagai kelompok fundamentalis atau puritan.

... wheeeww... i still haven't found my answer... so keep scrolling down.. heheh....


this one is from...
http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A4661_0_3_0_M

Dalam karyanya Ideology and Politics (1976), Martin Seliger mengatakan bahwa ideologi adalah orientasi tindakan yang berisi kepercayaan yang diorganisasi dalam satu sistem yang koheren. Definisi yang dibuat Seliger ini dapat dipahami bahwa ideologi tidak hanya memberikan pandangan dan ajaran tentang sistem ekonomi dan politik. Ideologi juga memberikan suatu sistem kepercayaan, sehingga penganutan terhadap sebuah ideologi cenderung mendorong seseorang menjadi fanatis terhadap nilai-nilai yang disediakan ideologinya itu.

Karakter dasar dari ideologi adalah sifatnya yang tertutup. Berbeda halnya dengan ilmu pengetahuan, yang senantiasa terbuka terhadap pandangan kritis dan temuan baru. Bahkan seringkali perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan adanya pergeseran teori dari yang lama kepada yang baru. Hal itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan tidak bernilai sakral dan absolut, sehingga penganutan terhadap ilmu pengetahuan tidak berdampak pada fanatisme.

Ideologi memiliki kemiripan dengan agama. Karena ideologi menanamkan sistem kepercayaan yang mendorong seseorang untuk memperjuangkan apa yang dipercayainya sebagai kebenaran. Dalam penelitiannya, Seliger melihat bahwa perilaku politik banyak dipengaruhi oleh Ideologi. Dinamika politik menggambarkan dialektika dan konflik ideologis para politisi.
-------------------------------------

lumayan... understand a bit about this...
but i still don't understand... one thing..
kenapa sih banyak partai politik di Indonesia selalu mengusung agama sebagai kekuatannya... seakan-akan klo ngga bawa agama trus ngga ada pendukungnya? apa ini ngga bikin rakyat tambah bodoh ya...

Blog EntryA Common Word Between "Us and You"..Dec 26, '07 12:32 AM
for everyone
...itulah judul dari surat yang dilayangkan oleh 138 perwakilan umat muslim kepada Paus Benediktus XVI dan beberapa pemimpin umat Kristen lain, dengan tujuan mengadakan dialog antara umat Islam dan Kristen, yang kurang lebih menuturkan bahwa Tuhan mereka adalah sama.

-----------------
A Common Word Between "Us and You"..

Beberapa bulan yang lalu, 138 intelektual muslim memadukan suara dan mengirimkan surat kepada Paus Benediktus XVI serta sejumlah pemimpin Kristen lainnya, yang isinya mengimbau terciptanya dialog antara umat Islam dan Kristen. Dalam surat yang berjudul "A Common Word Between Us and You" tersebut, mereka menuturkan bahwa kedua umat perlu menangguhkan keberbedaan mereka dan memahami bahwa Tuhan mereka adalah sama dan pada dasarnya, Dia memerintahkan setiap manusia saling mengasihi.

Tapi Adrian Pabst, pengajar agama dan politik dari University of Nottingham, mengkritik habis pernyataan ini. Menurut dia, tidak mungkin benar-benar tercipta dialog di antara keduanya, karena sifat Tuhan masing-masing agama begitu berbeda. Tuhan dalam teologi Kristen memiliki tiga sifat, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus, dengan kedudukan yang sama, atau diistilahkan sebagai trinitas. Adapun dalam Islam, Tuhan bersifat tunggal, sebagaimana yang tecermin dari pernyataan "tiada allah selain Allah".

Menurut Pabst, yang diperlukan saat ini bukanlah dialog, melainkan perdebatan mencari siapakah yang paling benar.

Lebih jauh, Pabst juga berpendapat bahwa
agama yang tidak dapat mempertahankan relevansinya dengan keadaan modern akan tereliminasi karena tidak diminati lagi oleh manusia yang semakin rasional.

Agama yang paling tinggi adalah yang paling rasional, yang tetap mampu menjawab persoalan dan kegundahan eksistensial yang dialami manusia, meskipun ilmu pengetahuan yang canggih telah hadir. Dari sinilah muncul anggapan bahwa perdebatan teologis dan historis antar keyakinan akan mengakhiri konflik di antara agama-agama, karena mereka yang kalah seketika akan tersingkir.

Persoalannya, dapatkah fakta ilmiah menawarkan keamanan dan kenyamanan hidup bagi mereka yang terbiasa di bawah lindungan payung sucinya?

Teologi agama adalah upaya menancapkan kepastian terhadap apa yang dimaksud dengan kebaikan agar kebaikan yang sebelumnya dirasakan secara intuitif dapat dipahami oleh nalar manusia dan tersampaikan kepada yang lain melalui bahasa. Dari sini dapat dipahami bahwa teologi adalah tubuh bagi jiwa agama yang revolusioner sekaligus welas asih.

tulisan lengkapnya, silahkan kesini:
http://www.tempointeraktif.com/hg/khusus/kolom/
--------------------

lagi-lagi soal perbedaan... sebenernya memang ngga ada salahnya sih mencari titik temu, mencegah perdebatan, ataupun meminta dialog, tapi apakah mungkin bahwa nantinya salah satu agama kemudian dengan begitu saja akan "rela" melepaskan sesuatu yang selama ini telah teramat sangat diyakini? pastinya tidak akan semudah itu dong... apalagi manusia cenderung mempercayai apa-apa yang "ingin" dipercayai, dan bukan mempercayai apa-apa yang "harus" dipercayai. Which means that the "common word" will never come to realization!!!! That it is only a wish, and will always remain as a wish...

..is it really necessary to continously arguing upon the differences while there are so many similarities in kindness of which we can pay attention to, and start showing it in our daily lives..?

Blog Entry7 Orang Pendekar "Anti Korupsi" 2007Dec 26, '07 12:02 AM
for everyone
Ternyata... sebenernya Indonesia bisa aja nglawan korupsi.. klo pemerintahan didominasi oleh orang-orang seperti dibawah ini.. Sayangnya, orang-orang seperti mereka itu 1 diantara sejuta.. Barang langka, dan hati nuraninya susah dikembang biakan.. he he he..

"7 Terpilih"

Mereka menggerakkan perubahan, memerangi korupsi, dan menumbuhkan harapan akan pemerintahan yang bersih.

"Di India, korupsi berlangsung di bawah meja, di Cina terjadi di atas meja, di Indonesia sekalian dengan mejanya."

Kalimat itu menjadi kepala artikel bertajuk ”The Wages of Corruption” di Asia Times Online, yang bermarkas di Hong Kong, 1 Agustus 2006. Kurang-lebih, karena soal itu pula Amien Sunaryadi, pada 2003, keluar dari lembaga audit kelas dunia PricewaterhouseCoopers (PwC) untuk bergabung dengan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Ia meninggalkan gajinya, yang sepuluh kali lipat dari upah sebagai pegawai Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan—tempat ia bekerja sebelum pindah ke PwC. Ia enggan menyebut gajinya sebagai wakil ketua di KPK, tapi sebelum memilih ikut seleksi menjadi pemimpin komisi antikorupsi itu, ia sadar bakal ”kembali melarat”.

Belakangan, keputusannya terbukti benar. Pakar audit forensik dan teknik investigasi ini menjadikan komisi itu berbisa. Amienlah yang memperkenalkan teknik sting investigation, penyadapan, yang menjadi pintu masuk Kejaksaan Agung untuk membongkar kasus korupsi di Komisi Pemilihan Umum. Ia juga aktor di balik pembongkaran kasus korupsi Direktur Utama Bulog Widjanarko Puspoyo, yang nyaris tak tersentuh hukum karena kedekatannya dengan orang-orang besar. Itu baru sedikit cerita tentang Amien, yang terpilih menjadi Tokoh Tempo 2007.

Pemilihan Tokoh Tempo adalah perhelatan rutin kami. Tahun lalu, misalnya, Tempo memilih Tri Mumpuni, atas kesetiaannya memasyarakatkan turbin listrik mandiri ke berbagai pelosok. Tahun lalu pula majalah ini memilih tokoh yang bersetia mengerjakan sesuatu yang memberikan dampak perubahan nyata pada masyarakat. Tapi kali ini yang dipilih adalah figur yang berhubungan dengan penegakan hukum dan perang melawan korupsi. Peran mereka amatlah penting karena penindakan korupsi belum juga memuaskan harapan masyarakat.

Mencari para pendekar antikorupsi bukan tugas yang mudah. Sebuah penelitian menunjukkan, 3 dari 5 orang di Indonesia pernah menyogok. Berbagai survei juga menunjukkan betapa korupnya lembaga-lembaga penegakan hukum kita, seperti kepolisian dan peradilan. Walhasil, karena para pendekar itu mesti bersih dari korupsi, mencari mereka pasti seperti menemukan jarum di dalam tumpukan jerami.
Kemungkinan salah memilih orang terbuka amat lebar. Tapi risiko itu masih terlalu kecil dibanding keinginan majalah ini untuk mendorong upaya pemberantasan kejahatan keji ini. ”Akan kita cari mereka sampai ke pedalaman Papua. Jika ternyata tidak ditemukan orang yang layak, tahun ini tidak usah ada Tokoh,” kata Toriq Hadad, Pemimpin Redaksi Tempo, memberikan saran.

Ketujuh calon memiliki rekam jejak yang menggetarkan. Simaklah Johny Mundung, yang terpilih karena sepak terjangnya melawan pembakaran hutan dan pembalakan liar di Riau yang pekat aroma korupsi. Suatu kali, sebuah perusahaan bubur kertas menawarkan dua pilihan: Rp 3,5 miliar sebagai ongkos tutup mulut atau, jika ia tak bersedia menerima uang itu, nyawanya dihabisi. Ia memilih yang kedua.

Johny kini berduet membongkar pembalakan liar dengan Brigjen Sutjiptadi. Banyak yang menganggap mereka duet striker terbaik yang pernah dimiliki Riau dalam perang melawan pembalakan liar.

Masuknya Sutjiptadi ke barisan kandidat Tokoh Tempo tidak mulus. Gebrakannya di Riau dinilai panelis belum membuahkan hasil. Tapi ia mendapat nilai plus dalam soal efek langkah kudanya dan atas keberaniannya menghadapi perusahaan raksasa serta keteguhannya dalam menolak suap.

Simak pula sepak terjang Darmin Nasution. Ia bukan orang pajak, tapi harus bersih-bersih di kantor yang terkenal korup itu. Ia tidak saja berhasil menyingkirkan sebagian daki, tapi juga menciptakan sistem untuk mencegah praktek busuk selama ini. Ia juga membongkar dugaan manipulasi pajak bernilai satu triliun rupiah lebih oleh PT Asian Agri.

Agaknya, ini tahun untuk Departemen Keuangan. Mitra Darmin, Anwar Suprijadi, tak kalah sigap. Ia babad alas memerangi korupsi di Bea dan Cukai. Misalnya, ia mencopot 1.200 karyawan kepabeanan Tanjung Priok dan menggantinya dengan 800 orang baru. Ia bongkar kasus dugaan penyelewengan fasilitas kepabeanan oleh pengusaha sepatu Hartati Murdaya, meski mendapat tekanan dari sekitar Istana.

Anak buahnya, Agung Kuswandono, harus pula dipuji. Baru-baru ini ia membongkar dugaan penyelundupan mobil mewah melalui jalur diplomatik yang telah berlangsung sejak 1970-an. Ketika menjabat Kepala Bea dan Cukai Bandara Soekarno-Hatta, ia menyegel helikopter milik Ahmad Kalla, adik Wakil Presiden Jusuf Kalla, karena belum melunasi jaminan kepabeanan.

Dari lembaga peradilan, ada Andi Samsan Nganro. Semasa menjadi Ketua Pengadilan Jakarta Selatan, ia membatalkan surat keputusan penghentian penuntutan perkara mantan Presiden Soeharto. Ia juga memutus bersalah hakim Herman Allositandi serta panitera Andry Djemi Lumanauw dalam kasus suap dan pemerasan. Di kantornya, ia memasang kamera untuk mencegah jual-beli perkara.

Hampir tengah malam, ”pisau bedah” baru berhenti bekerja. Tapi sang Tokoh belum bisa diputuskan. Panelis meminta klarifikasi atas beberapa hal. Misalnya, soal masih dikuasainya rumah dinas PT Kereta Api di Bandung oleh Anwar, yang pernah menjadi direktur utama di sana. Soal Johny yang kerap meminta rekannya membelikan pulsa. Juga soal harta Amien yang cuma Rp 387 juta, dan sejumlah perkara sensitif lainnya….

Bahwa akhirnya DPR ternyata menyisihkan Amien dari calon Ketua KPK pada 5 Desember, dan kami memilih Amien sebagai Tokoh Tempo 2007 tepat sehari sebelumnya, itulah pilihan. Banyak kisah menunjukkan, ”yang terpilih” kerap menjadi ”yang tersisih”.

sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/free/utama.html

Blog EntryNegeri "Violence is The Only Way" ..Dec 25, '07 11:23 PM
for everyone
Becermin kepada Kampung Belong
Samsudin Adlawi

Beberapa hari lagi, tahun 2007 berlalu meninggalkan kita. Selama setahun ini kita tidak hanya menjadi saksi apa yang sudah dilakukan pemerintah, tapi juga langsung merasakan sendiri dampaknya. Baik yang positif maupun negatif. Yang menyenangkan maupun malah menyengsarakan. Bahkan, dengan mudah rakyat bisa memberikan skor, menilai sukses atau gagalnya program pemerintah.

Sekilas, beberapa program pemerintah pada 2007 tampak berjalan dengan baik. Meskipun tidak baik-baik sekali. Sayang, pembangunan yang dilaksanakan pemerintah selama 2007 masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Yakni, masih fokus pada fisik dan penguatan ekonomi. Mulai pembangunan dan pengembangan berbagai infrastruktur, peningkatan produksi pangan, diversifikasi dan konversi energi, hingga penataan lembaga kepartaian. Kalau boleh menyebut, reformasi yang dilakukan pemerintah saat ini baru sebatas pada ranah ekonomi, politik, dan sedikit di bidang hukum.

Sementara reformasi sosial masih jauh api daripada panggang. Boleh dibilang, ranah sosial yang tecermin dalam pembangunan nonfisik saat ini masih terabaikan.

Kebijakan tersebut mengakibatkan pembangunan berjalan timpang. Di satu sisi, ekonomi nasional makin kuat dan infrastruktur meningkat. Tapi, di sisi lain, terjadi keterpurukan peradaban di tengah masyarakat kita. Moral bangsa kian terdegradasi. Budaya kekerasan yang bersemi sejak meletusnya gerakan reformasi pada 1998 bukannya makin terkikis, tapi malah tumbuh subur.

Saat ini sekecil apa pun gesekan yang terjadi rentan menimbulkan kekerasan. Entah itu gesekan pemikiran, ideologi, politik, hingga fisik. Semua berpotensi memicu percikan violence.

***

Sejumlah aksi kekerasan selama medio 2007 tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tapi juga korban jiwa yang tidak sedikit. Contoh terkini, peristiwa eksekusi tanah berdarah di Kampung Belong, Desa Rumbia, Kecamatan Jeneponto, Sulsel. Eksekusi tanah pada 6 Desember 2007 itu berakhir dengan bentrokan antara warga dan aparat. Seorang polisi, Briptu Dasrin, tewas ditusuk warga. Sejumlah polisi dan warga juga terluka parah hingga ringan.

Tragedi Kampung Belong tersebut bukan yang pertama terjadi. Hampir setiap pelaksanaan eksekusi tanah/bangunan diwarnai aksi kekerasan. Kekerasan oleh aparat terhadap warga dan demikian sebaliknya. Ironisnya, meski berulang-ulang terjadi, hingga kini belum tampak formula baru untuk mengatasi. Aparat masih saja melakukan tindakan represif dan intimidatif setiap melaksanakan eksekusi. Sedangkan warga yang lahannya dieksekusi belum melek hukum sehingga kurang dewasa dalam menyikapi vonis persidangan sengketa lahan. Lantas, dengan sekuat tenaga, ia melawan terhadap upaya eksekusi.

Modus-modus kekerasan juga masih sering dipertontonkan aparat setiap melakukan penertiban. Mulai penertiban rumah dan gubuk liar yang berdiri di tanah milik pemerintah/orang hingga penertiban PKL (pedagang kaki lima). Adu fisik antara aparat dan PKL serta perobohan bangunan/gubuk secara paksa selalu mewarnai aksi penertiban.

Pemandangan kekerasan juga terlalu sering terlihat dalam aksi-aksi demonstrasi. Baik yang digelar mahasiswa hingga warga di pelosok desa. Kekerasan yang mereka tontonkan bukan hanya aksi fisik, tapi juga kekerasan verbal. Bahkan, kalimat-kalimat hujatan dan provokasi yang mereka teriakkan lebih menyakitkan dibandingkan dengan kekerasan fisik.

Pertanyaannya sekarang, sampai kapan budaya kekerasan itu berlangsung. Tidak bisakah diciptakan formula yang lebih manusiawi dalam menyelesaikan setiap riak-riak yang muncul. Atau, memang bangsa ini sedang sakit kronis; sudah mati rasa persaudaraannya dan sudah putus saraf kemanusiaannya sehingga segala persoalan memang harus diselesaikan dengan kekerasan.

Pertanyaan berikutnya, mengapa pemerintah terkesan tutup mata terhadap aksi kekerasan yang trennya kian marak dari tahu ke tahun. Adakah pemerintah sengaja memelihara budaya kekerasan yang kini mulai merambah ke semua ranah, mulai fisik, ideologi, pemikiran, dan politik. Tujuannya agar rakyat sibuk dengan teror kekerasan dan tidak lagi punya kesempatan untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah.

Yang pasti, kekerasan hanya akan mempertahankan lingkaran kejahatan. Cara kekerasan (dalam bentuk apa pun) tidak akan pernah menghasilkan keadilan dan perdamaian. Bukankah terciptanya keadilan dan perdamaian hampir selalu masuk teks pidato pemimpin negeri ini.

~ Samsudin Adlawi
wartawan Jawa Pos, yang saat ini menjadi direktur Radar Banyuwangi

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help