Damn.. I just read this e-zine called “Anarchy & Alcohol” yang gw donlod gratis dari site ini atas rekomendasi nona darkhellangel. Ternyata warning dari nona satu ini bahwa setelah main-main kesitu kita bisa merasa lihat dunia dengan cara yang berbeda sepertinya mulai terbukti. If the zine is telling us about how alcohol are used to kill people’s brain (secara tidak sadar, of course) atau at least membuat mereka yang berpikiran ”radikal” menjadi tidur dan terdiam sejenak, maka benak saya mulai dijejali pertanyaan dibawah ini..
lalu bagaimana dengan rokok...???!!!
Eh, gilanya gua jadi mikir siapa yang tambah kaya melalui budaya menghisap asap ini. Memang efeknya mungkin tidak separah atau “sesegera” alkohol yang bisa bikin hilang kesadaran setelah beberapa teguk, tapi efeknya lebih kepada kerusakan tubuh permanen dalam jangka panjang. Terutama jika kebiasaan menghabiskan 1 pak sehari selama 15 tahun terus-menerus dilakukan. Shit, dan gua pun mulai berhitung... I started smoking on 1997, and now it’s already 2008. Berarti waktu gw menikmati rokok tinggal… sekitar 5 tahun lagi?
Fuck it. Let’s just forget about my health for a while. Yang lebih menarik perhatian gw adalah betapa produsen rokok itu semakin diuntungkan oleh kebiasaan buruk gw dan kalian semua yang masih merokok. Tapi pada kenyataannya, industri ini termasuk yang padat karya, jadi kalo semua orang tiba-tiba nggak doyan rokok, kasian juga buruh-buruh yang kerja disitu, dan petani tembakau juga bisa bangkrut dong!?
Gw pribadi menganggap bombardir iklan rokok lewat berbagai media yang jelas-jelas mentarget generasi muda untuk merokok adalah memuakkan, walaupun sepertinya cukup berhasil. Sedih ya? Apalagi kalo melihat realita bahwa produsen memang membutuhkan ”new-smokers” untuk menggantikan "old-smokers" alias mereka-mereka yang memutuskan untuk berhenti (atau terpaksa berhenti karena mati).. heheeh...
Ironis. Kampanye anti rokok lewat media masih kalah gencar kalo dibandingin sama iklan rokok yang tiap hari menghiasi layar kaca maupun papan-papan iklan di sepanjang jalan. Belum lagi acara musik (dan sekarang olahraga) yang selalu bergantung kepada produsen rokok selaku sponsor utama. Kenapa sih ga bisa DIY bikin acara, apa takut ngga laku atau takut modalnya ngga balik? Gw ngga ngerti, tapi yang jelas gw sebel..
Lama-lama gw mikir hebat juga ya betapa iklan dan kekuatan promosi suatu perusahaan bisa menciptakan budaya baru terlepas itu baik atau buruk. Dan gw semakin stress karena timbul pertanyaan baru...
Apakah media berhasil menjadi refleksi kehidupan generasi muda saat ini, atau justru generasi muda sekarang punya budaya yang sangat dipengaruhi media?