pipi's posts with tag: spiritualism
I've heard the angels and I've seen the devil Fought with the lion, sent through the fire I've been in the valley when it was dry Walked through the desert to the other side I'm not a preacher and I'm not a hero My life has never been that kind But there is one thing that I hold onto I am yours, and Lord you are mine CHORUSAnd through all these years You have been there Dried all my tears and answered my prayers I just want to feel your presence again I'm down on my knees in need a friend And I find you waiting there for me I've seen a widow cry through her sorrow And still raise her hands in the midst of it all And Lord I'm reminded what I was weary You carried me, yes you carried me CHORUS And through all these years You have been there Dried all my tears and answered my prayers I just want to feel your presence again I'm down on my knees in need of a friend And I find you waiting there..... BRIDGE In the midst of a struggle There is one thing I know You'll never leave me, no never alone I've heard the angels and I've seen the devil Fought with the lion, sent straight through the fire CHORUS And through all these years You have been there Dried all my tears and answered my prayers I just want to feel your presence again I'm down on my knees in need of a friend And I find you waiting And I find you waiting there for me Waiting, I find you waiting there.. sialan..mata gua berkaca-kaca dengerin lagu ini... juangkreeeek, teringat dosa... special thank's to Mr. Bob for uploading the song.. | find you waiting | | Bobbastiz Selections | | Decemberadio | |
Link: http://kebunhikmah.com"Inilah sebuah kebun tempat berkumpulnya berbagai tanaman-tanaman kebaikan, yang Insya Allah akan membuahkan aneka macam hikmah. Semoga kebun ini menjadi salah satu jalan yang membantu mengantar kita ke Surga yang dijanjikan-Nya"salah satu post favorit saya di website ini adalah surat dari Presiden Iran Ahmadinejad untuk George W. Bush dengan potongan terakhir dibawah ini.. "Hari ini perhatian masyarakat dunia semakin meningkat kepada sebuah fokus. Dan pusat itu adalah Tuhan Yang Esa. Dan tentunya masyarakat dengan tauhid dan berpegangan dengan ajaran-ajaran para Nabi akan dimenangkan atas masalah yang dihadapi. Pertanyaan penting dan serius saya di sini:
Apakah Anda tidak ingin menyertai mereka?
artikel ini ditulis pada bulan Agustus 2006.. a bit out-dated, i know.. and i'm trying not to just copy paste this article but i want to make it shorter, and more simple to understand.. sekalian belajar nulis.. hehe.. buat yg mau edisi lengkap, silahkan ke websitenya aja di: http://www.rsi.sg/indonesian/imaji/view/20060803110000/1/.html
Meyakini Eksistensi Tuhan: Antara Hidayah dan Hasil Usaha..
Setelah IQ, yang digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan otak manusia, selanjutnya adalah EQ atau Emotional Quotient, yang lebih mementingkan aspek emosi dan bagaimana seseorang bisa memahami orang lain. Tetapi menurut Dana Zohar dan Ian Marshall, kecerdasan yang sebenarnya masih belum lengkap tanpa adanya Spiritual Quotient atau SQ yang dianggap sebagai “The Ultimate Intelligence”.. SQ meyakini adanya titik yang disebut "God Spot" di otak manusia. Titik ini akan bereaksi saat seseorang berfikir mengenai hal-hal yang bersifat spiritual, yaitu mengenai kekuatan lain di alam ini yang tidak dapat dijawab dengan ilmu pengetahuan. Walaupun demikian, adanya titik ini tidak membuktikan bahwa semua orang memiliki keyakinan yang sama tentang Tuhan, tidak juga membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Jika demikian, lalu apa manfaat SQ bagi kecerdasan seseorang, jika hanya mendatangkan pertanyaan seputar keberadaan Tuhan, tetapi tidak memberikan jalan untuk memperoleh jawaban mengenai eksistensi Tuhan? Kenyataan inilah yang memicu ketertarikan Professor Dr. Abdul Munir Mulkhan, Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta, untuk melanjutkan SQ dengan menciptakan "Makrifat Quotient". Yang maksud dengan Makrifat adalah jenjang pemahaman tertinggi tentang eksistensi atau keberadaan Tuhan. Prof. Mulkhan berpendapat bahwa "kalau spiritual quotient dilanjutkan lagi tanpa menolak keberadaan Tuhan, tanpa kukuh pada sekularisme, maka Islam punya kekayaan yang namanya makrifat." Namun yang menjadi permasalahan adalah dua pendapat tentang konsep makrifat yang beredar di Indonesia, yang cukup membingungkan baginya (dan bagi saya juga..hehe).. Konsep pertama adalah makrifat sebagai suatu "hidayah" sementara konsep kedua adalah makrifat sebagai "hasil usaha" manusia. Terinspirasi oleh penjelasan yang diperoleh dari Sri Bhagavan (tokoh terkemuka dari Oneness University di Chennai India), Prof. Mulkhan tidak menolak anggapan hadirnya makrifat sebagai hidayah, tapi ia juga meyakini bahwa kita sebagai manusia bisa berusaha untuk me-manage tindakan sedemikian rupa, sehingga secara rasional kita bisa memperoleh hidayah itu. Jadi bukan hanya semata-mata menunggu hidayah, melainkan menyongsong datangnya hidayah itu dengan jerih payah usaha kita sendiri.. melalui ibadah, berserah diri, dengan senantiasa mempelajari tanda-tanda kebesaran-Nya, dan mempelajari wahyu-Nya yang terangkum di kitab suci...
fyi.. gw nulis ini sambil berdiskusi by chat with a friend... about almost the same thing.. thanks for giving me answers!!
Goenawan Muhammad pernah menulis (sayangnya gw lupa dimana.. hehe) "..manusia bisa tersesat, tapi sejarah menunjukkan bahwa iman tak pernah jera justru ketika Tuhan tak jadi bagian dari benda-benda yang terang... siapapun yang mengira bahwa ada jalan pintas dalam iman akan menemukan jalan buntu.."
tertarik dengan kalimat tersebut diatas.. seakan-akan bahwa manusia menemukan Tuhan, bukan di suasana terang (bahagia) tetapi justru didalam kegelapan, saat mereka mengalami keterpurukan, kesedihan, bahkan keputus-asaan... sinkron dengan kalimat selanjutnya yang meng-claim bahwa yang disebut iman tidak bisa ditemukan melalui jalan pintas, yang gw artiin bahwa iman seseorang diperoleh melalui berbagai "cobaan demi cobaan" dalam menjalankan hidup..
kalau benar begitu, lalu orang-orang yang hidupnya lurus-lurus saja alias tidak pernah sengsara, tidak akan beriman dan menemukan Tuhan? wow... that's not true!! menurut gw sih, kita menemukan Tuhan melalui kepasrahan yang teramat sangat tinggi... dan tingkat kepasrahan seperti itu biasanya hanya dirasakan oleh orang yang lagi kesusahan, yang lagi ketemu masalah berat, yang lagi mentok ama keputus-asaan mereka... dan mereka mengambil jalan yang tepat untuk curhat ama pencipta-Nya..
pada saat seperti itulah, biasanya kita memasrahkan keputusan kepada Sang Pencipta.. karena biar bagaimanapun juga, kita adalah ciptaan-Nya.. dan atas kehendak-Nya, segala masalah dapat terselesaikan dengan cara dan waktu yang sesuai dengan ketentuan-Nya.. it is easier said than done, actually.. karena sifat manusia di diri kita terkadang sulit untuk menerima kenyataan pahit yang terburai didepan mata, walaupun hati kecil kita bersuara bahwa itu ketentuan Tuhan, and we have to accept it.. dengan ikhlas..!!
lalu bagaimana selanjutnya..? setelah memasrahkan diri, sebagai manusia kita dapat berjuang melanjutkan hidup yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.. we have to move on, tapi kali ini, perjalanan yang kita tempuh alangkah indahnya apabila diiringi dengan permintaan yang tulus kepada Sang Pencipta agar selalu diterangi oleh cahaya-Nya.. agar tidak tersesat ke perjalanan yang membawa kita kembali ke kegelapan dan keterpurukan.. karna yang namanya nafsu akan terus menerus digoda oleh setan, sehingga kedamaian dan ketenangan hati begitu mudah terusik..
all we have to do is ask... and have faith that God will answer through so many ways..
...itulah judul dari surat yang dilayangkan oleh 138 perwakilan umat muslim kepada Paus Benediktus XVI dan beberapa pemimpin umat Kristen lain, dengan tujuan mengadakan dialog antara umat Islam dan Kristen, yang kurang lebih menuturkan bahwa Tuhan mereka adalah sama.
----------------- A Common Word Between "Us and You"..
Beberapa bulan yang lalu, 138 intelektual muslim memadukan suara dan mengirimkan surat kepada Paus Benediktus XVI serta sejumlah pemimpin Kristen lainnya, yang isinya mengimbau terciptanya dialog antara umat Islam dan Kristen. Dalam surat yang berjudul "A Common Word Between Us and You" tersebut, mereka menuturkan bahwa kedua umat perlu menangguhkan keberbedaan mereka dan memahami bahwa Tuhan mereka adalah sama dan pada dasarnya, Dia memerintahkan setiap manusia saling mengasihi. Tapi Adrian Pabst, pengajar agama dan politik dari University of Nottingham, mengkritik habis pernyataan ini. Menurut dia, tidak mungkin benar-benar tercipta dialog di antara keduanya, karena sifat Tuhan masing-masing agama begitu berbeda. Tuhan dalam teologi Kristen memiliki tiga sifat, yaitu Bapa, Putra, dan Roh Kudus, dengan kedudukan yang sama, atau diistilahkan sebagai trinitas. Adapun dalam Islam, Tuhan bersifat tunggal, sebagaimana yang tecermin dari pernyataan "tiada allah selain Allah".
Menurut Pabst, yang diperlukan saat ini bukanlah dialog, melainkan perdebatan mencari siapakah yang paling benar.
Lebih jauh, Pabst juga berpendapat bahwa agama yang tidak dapat mempertahankan relevansinya dengan keadaan modern akan tereliminasi karena tidak diminati lagi oleh manusia yang semakin rasional.
Agama yang paling tinggi adalah yang paling rasional, yang tetap mampu menjawab persoalan dan kegundahan eksistensial yang dialami manusia, meskipun ilmu pengetahuan yang canggih telah hadir. Dari sinilah muncul anggapan bahwa perdebatan teologis dan historis antar keyakinan akan mengakhiri konflik di antara agama-agama, karena mereka yang kalah seketika akan tersingkir.
Persoalannya, dapatkah fakta ilmiah menawarkan keamanan dan kenyamanan hidup bagi mereka yang terbiasa di bawah lindungan payung sucinya?
Teologi agama adalah upaya menancapkan kepastian terhadap apa yang dimaksud dengan kebaikan agar kebaikan yang sebelumnya dirasakan secara intuitif dapat dipahami oleh nalar manusia dan tersampaikan kepada yang lain melalui bahasa. Dari sini dapat dipahami bahwa teologi adalah tubuh bagi jiwa agama yang revolusioner sekaligus welas asih.
tulisan lengkapnya, silahkan kesini: http://www.tempointeraktif.com/hg/khusus/kolom/ --------------------
lagi-lagi soal perbedaan... sebenernya memang ngga ada salahnya sih mencari titik temu, mencegah perdebatan, ataupun meminta dialog, tapi apakah mungkin bahwa nantinya salah satu agama kemudian dengan begitu saja akan "rela" melepaskan sesuatu yang selama ini telah teramat sangat diyakini? pastinya tidak akan semudah itu dong... apalagi manusia cenderung mempercayai apa-apa yang "ingin" dipercayai, dan bukan mempercayai apa-apa yang "harus" dipercayai. Which means that the "common word" will never come to realization!!!! That it is only a wish, and will always remain as a wish...
..is it really necessary to continously arguing upon the differences while there are so many similarities in kindness of which we can pay attention to, and start showing it in our daily lives..?
belum tau bener apa enggak.. belum search lebih lanjut.. hehee... tapi.. this one's totally freakin' me out!!!!! ''Menyaksikan Orang Disiksa dan Ingin Kembali ke Dunia''Kesaksian Warga Bengkalis yang Mati SuriPengalaman mati suri seperti yang dialami Aslina, telah pula dirasakan banyak orang. Seorang peneliti dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Virginia Dr Raymond A Moody pernah meneliti fenomena ini. Hasilnya orang mati suri rata-rata memiliki pengalaman yang hampir sama. Masuk lorong waktu dan ingin dikembalikan ke dunia. Berikut catatan Riau Pos yang turut serta mendengarkan kesaksian Aslina dalam temu Alumni ESQ (emotional, spiritual, quotient) Ahad (24/9) di Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru. Catatan ini dilengkapi pula dengan penjelasan instruktur ESQ Legisan Sugimin yang mengutip Al-Quran yang menjelaskan orang yang mati itu ingin dikembalikan ke dunia, serta penelusuran melalui internet tentang Dr Raymond. Bagi pembaca yang ingin mengetahui perihal Dr Raymond dapat membuka situs www.lifeafterlife.com dan hasil penelitian Raymond tentang mati suri dapat dibaca di buku Life After Life. Aslina adalah warga Bengkalis yang mati suri 24 Agustus 2006 lalu. Gadis berusia sekitar 25 tahun itu memberikan kesaksian saat nyawanya dicabut dan apa yang disaksikan ruhnya saat mati suri. Sebelum Aslina memberi kesaksian, pamannya Rustam Effendi memberikan penjelasan pembuka. Aslina berasal dari keluarga sederhana, ia telah yatim. Sejak kecil cobaan telah datang kepada dirinya. Pada umur 20 tahun ia terkena gondok (hipertiroid). Gondok tersebut menyebabkan beberapa kerusakan pada jantung dan matanya. Karena penyakit gondok itu maka Jumat, 24 Agustus 2006 Aslina menjalani check-up atas gondoknya di Rumah Sakit Mahkota Medical Center (MMC) Melaka Malaysia. Hasil pemeriksaan menyatakan penyakitnya di ambang batas sehingga belum bisa dioperasi. ''Kalau dioperasi maka akan terjadi pendarahan,'' jelas Rustam. Oleh karena itu Aslina hanya diberi obat. Namun kondisinya tetap lemah. Malamnya Aslina gelisah luar biasa, dan terpaksa pamannya membawa Aslina kembali ke Mahkota sekitar pukul 12 malam itu. Ia dimasukkan ke unit gawat darurat (UGD), saat itu detak jantungnya dan napasnya sesak. Lalu ia dibawa ke luar UGD masuk ke ruang perawatan. ''Aslina seperti orang ombak (menjelang sakratulmaut, red). Lalu saya ajarkan kalimat thoyyibah dan syahadat. Setelah itu dalam pandangan saya Aslina menghembuskan nafas terakhir,'' ungkapnya. Usai Rustam memberi pengantar, lalu Aslina memberikan kesaksiaanya. ''Mati adalah pasti. Kita ini calon-calon mayat, calon penghuni kubur,'' begitu ia mengawali kesaksiaanya. ''Saya telah merasakan mati,'' ujar anak yatim itu. Hadirin terpaku mendengar kesaksian itu. Sungguh, lanjutnya, terlalu sakit mati itu. Diceritakan, rasa sakit ketika nyawa dicabut itu seperti sakitnya kulit hewan ditarik dari daging, dikoyak. Bahkan lebih sakit lagi.''Terasa malaikat mencabut (nyawa, red) dari kaki kanan saya,'' tambahnya. Di saat itu ia sempat diajarkan oleh pamannya kalimat thoyibah. ''Saat di ujung napas, saya berzikir,'' ujarnya. ''Sungguh sakitnya, Pak, Bu,'' ulangnya di hadapan lebih dari 300 alumni ESQ Pekanbaru. Diungkapkan, ketika ruhnya telah tercabut dari jasad, ia menyaksikan di sekelilingnya ada dokter, pamannya dan ia juga melihat jasadnya yang terbujur. Setelah itu datang dua malaikat serba putih mengucapkan Assalaimualaikum kepada ruh Aslina. ''Malaikat itu besar, kalau memanggil, jantung rasanya mau copot, gemetar,'' ujar Aslina mencerita pengalaman matinya. Lalu malaikat itu bertanya: ''siapa Tuhanmu, apa agamamu, dimana kiblatmu dan siapa nama orangtuamu.'' Ruh Aslina menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Lalu ia dibawa ke alam barzah. ''Tak ada teman kecuali amal,'' tambah Aslina yang Ahad malam itu berpakaian serba hijau. Seperti pengakuan pamannya, Aslina bukan seorang pendakwah, tapi malam itu ia tampil memberikan kesaksian bagaikan seorang muballighah. Di alam barzah ia melihat seseorang ditemani oleh sosok yang mukanya berkudis, badan berbulu dan mengeluarkan bau busuk. Mungkin sosok itulah adalah amal buruk dari orang tersebut. Aslina melanjutkan. ''Bapak, Ibu, ingatlah mati,'' sekali lagi ia mengajak hadirin untuk bertaubat dan beramal sebelum ajal menjemput. Di alam barzah, ia melanjutkan kesaksiannya, ruh Aslina dipimpin oleh dua orang malaikat. Saat itu ia ingin sekali berjumpa dengan ayahnya. Lalu ia memanggil malaikat itu dengan ''Ayah''. ''Wahai ayah bisakah saya bertemu dengan ayah saya,'' tanyanya. Lalu muncullah satu sosok. Ruh Aslina tak mengenal sosok yang berusia antara 17-20 tahun itu. Sebab ayahnya meninggal saat berusia 65 tahun. Ternyata memang benar, sosok muda itu adalah ayahnya. Ruh Aslina mengucapkan salam ke ayahnya dan berkata: ''Wahai ayah, janji saya telah sampai.'' Mendengar itu ayah saya saya menangis.Lalu ayahnya berkata kepada Aslina. ''Pulanglah ke rumah, kasihan adik-adikmu.'' ruh Aslina pun menjawab. ''Saya tak bisa pulang, karena janji telah sampai''. Usai menceritakan dialog itu, Aslina mengingatkan kembali kepada hadirin bahwa alam barzah dan akhirat itu benar-benar ada. ''Alam barzah, akhirat, surga dan neraka itu betul ada. Akhirat adalah kekal,'' ujarnya bak seorang pendakwah. Setelah dialog antara ruh Aslina dan ayahnya. Ayahnya tersebut menunduk. Lalu dua malaikat memimpinnya kembali, ia bertemu dengan perempuan yang beramal shaleh yang mukanya bercahaya dan wangi. Lalu ruh Aslina dibawa kursi yang empuk dan didudukkan di kursi tersebut, di sebelahnya terdapat seorang perempuan yang menutup aurat, wajahnya cantik. Ruh Aslina bertanya kepada perempuan itu. ''Siapa kamu?'' lalu perempuan itu menjawab.''Akulah (amal) kamu.'' Selanjutnya ia dibawa bersama dua malaikat dan amalnya berjalan menelurusi lorong waktu melihat penderitaan manusia yang disiksa. Di sana ia melihat seorang laki-laki yang memikul besi seberat 500 ton, tangannya dirantai ke bahu, pakaiannya koyak-koyak dan baunya menjijikkan. Ruh Aslina bertanya kepada amalnya. ''Siapa manusia ini?'' Amal Aslina menjawab orang tersebut ketika hidupnya suka membunuh orang. Lalu dilihatnya orang yang yang kulit dan dagingnya lepas. Ruh Aslina bertanya lagi ke amalnya tentang orang tersebut. Amalnya mengatakan bahwa manusia tersebut tidak pernah shalat bahkan tak bisa mengucapkan dunia kalimat syahadat ketika di dunia. Selanjutnya tampak pula oleh ruh Aslina manusia yang dihujamkan besi ke tubuhnya. Ternyata orang itu adalah manusia yang suka berzina. Tampak juga orang saling bunuh, manusia itu ketika hidup suka bertengkar dan mengancam orang lain. Dilihatkan juga pada ruh Aslina, orang yang ditusuk dengan 80 tusukan, setiap tusukan terdapat 80 mata pisau yang tembus ke dadanya, lalu berlumuran darah, orang tersebut menjerit dan tidak ada yang menolongnya. Ruh Aslina bertanya pada amalnya. Dan dijawab orang tersebut adalah orang juga suka membunuh. Tampak pula orang berkepala babi dan berbadan babi. Orang tersebut adalah orang yang suka berguru pada babi. Ada pula orang yang dihempaskan ke tanah lalu dibunuh. Orang tersebut adalah anak yang durhaka dan tidak mau memelihara orang tuanya ketika di dunia. Perjalanan menelusuri lorong waktu terus berlanjut. Sampailah ruh Aslina di malam yang gelap, kelam dan sangat pekat sehingga dua malaikat dan amalnya yang ada disisinya tak tampak. Tiba-tiba muncul suara orang mengucap : Subnallah, Alhamdulillah dan Allahu Akbar. Tiba-tiba ada yang mengalungkan sesuatu di lehernya. Kalungan itu ternyata tasbih yang memiliki biji 99 butir. Perjalanan berlanjut. Ia nampak tepak tembaga yang sisi-sisinya mengeluarkan cahaya, di belakang tepak itu terdapat gambar kakbah. Di dalam tepak terdapat batangan emas. Ruh Aslina bertanya pada amalnya tentang tepak itu. Amalnya menjawab tepak tersebut adalah husnul khatimah. (Husnul khatimah secara literlek berarti akhir yang baik. Yakni keadaan dimana manusia pada akhir hayatnya dalam keadaan (berbuat) baik,red). Selanjutnya ruh Aslina mendengarkan azan seperti azan di Mekkah. Ia pun mengatakan kepada amalnya. ''Saya mau shalat.'' Lalu dua malaikat yang memimpinnya melepaskan tangan ruh Aslina. ''Saya pun bertayamum, saya shalat seperti orang-orang di dunia shalat,'' ungkap Aslina. Selanjutnya ia kembali dipimpin untuk melihat Masjid Nabawi. Lalu diperlihatkan pula kepada ruh Aslina, makam Nabi Muhammad SAW. Dimakam tersebut batangan-batangan emas di dalam tepak ''husnul khatimah'' itu mengeluarkan cahaya terang. Berikutnya ia melihat cahaya seperti matahari tapi agak kecil. Cahaya itu pun bicara kepada ruh Aslina. ''Tolong kau sampaikan kepada umat, untuk bersujud di hadapan Allah.'' Selanjutnya ruh Aslina menyaksikan miliaran manusia dari berbagai abad berkumpul di satu lapangan yang sangat luas. Ruh Aslina hanya berjarak sekitar lima meter dari kumpulan manusia itu. Kumpulan manusia itu berkata. ''Cepatlah kiamat, aku tak tahan lagi di sini Ya Allah.'' Manusia-manusia itu juga memohon. ''Tolong kembalikan aku ke dunia, aku mau beramal.''Begitulah di antara cerita Aslina terhadap apa yang dilihat ruhnya saat ia mati suri. Dalam kesaksiaannya ia senantiasa mengajak hadirin yang datang pada pertemuan alumni ESQ itu untuk bertaubat dan beramal shaleh serta tidak melanggar aturan Allah. Setelah kesaksian Aslina, instruktur Pelatihan ESQ Legisan Sugimin menjelaskan bahwa fenomena mati suri dan apa yang disaksikan oleh orang yang mati suri pernah diteliti ilmuan Barat. Legisan mengemukakan pula, mungkin di antara alumni ESQ yang hadir pada Ahad (24/9) malam itu ada yang tidak percaya atau ragu terhadap kesaksian Aslina. Tapi yang jelas, lanjutnya, rata-rata orang yang mati suri merasakan dan melihat hal yang hampir sama. ''Apa yang disampaikan Aslina, mungkin bukti yang ditunjukkan Allah kepada kita semua,'' ujarnya. Legisan menjelaskan penelitian oleh Dr Raymond A Moody Jr tentang mati suri. Raymond mengemukakan orang mati suri itu dibawa masuk ke lorong waktu, di sana ia melihat rekaman seluruh apa yang telah ia lakukan selama hidupnya. Dan diakhir pengakuan orang mati suri itu berkata: ''Dan aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya.'' Menanggapi kesaksian Aslina yang melihat orang-orang berteriak ingin dikembalikan ke dunia dan ingin beramal serta penelitian Raymond yang menyebutkan ''aku ingin agar aku dapat kembali dan membatalkan semuanya,'' Legisan mengutip ayat Al-Quran Surat Al-Mu'muninun (23) ayat 99-100: (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata:''Ya, Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia).''(99). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.(100). Sebagai penguat dalil agar manusia bertaubat, dikutipkan juga Quran Surat Az-Zumar ayat 39: ''Dan kembalilah kamu kepada Tuhan-Mu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).'' diambil dari... http://bemuslimconr.multiply.com/journal/item/303/Kesaksian_Mati_Suri
Mengungkap Ajaran Siti Jenar Sosok Syekh Siti Jenar yang banyak dimitoskan pelan-pelan terkuak. Beberapa penelitian menyingkap sosok dan ajarannya. Benarkah dia sosok yang murtad dari sudut pandang agama? Selasa lalu (15/5) Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) berbincang-bincang dengan Agus Sunyoto, penulis 7 jilid buku fiksi sejarah tentang tokoh kontroversial tersebut. -----------
Seperti apa riwayat ketertarikan Anda meneliti sosok Syekh Siti Jenar? Kakek saya dari pihak ibu adalah orang Jombang. Dia mengaku mengamalkan ajaran Syekh Siti Jenar. Ketika saya tanya dari mana memperoleh pengetahuan itu, dia jawab, "Lho, saya kan santri Tebu Ireng angkatan pertama!"
Dia meninggal 1995 dalam usia 105 tahun. Satu-satunya guru yang dia ikuti ajarannya sampai saat itu adalah almarhum KH Hasyim Asyari. "Berarti Mbah Hasyim mengajarkan soal ini, dong?" tanya saya. "Lha, iya!" katanya.
Saya berpikir, dari mana dia dapat itu kalau bukan dari Mbah Hasyim langsung. Tapi saya masih ragu: masak Mbah Hasyim mengajarkan itu?! Dari beberapa sumber lain, saya mendapat jawaban yang sama. Jadi, saya berkesimpulan benar bahwa Mbah Hasyim mengajarkan itu.
Apakah ajaran Siti Jenar masih berjejak dalam masyarakat Jawa saat ini? Ada. Itu terlihat dari adanya guru-guru tarekat atau kebatinan dari kalangan pribumi. Sebelum Siti Jenar, masyarakat pribumi tidak boleh menjadi guru (tarekat). Setelah itu, baru boleh.
Unsur-unsur apa dari ajaran Siti Jenar yang masih tampak dalam tarekat yang mengklaim tersambung dengan dirinya? Egalitarianisme. Mereka egaliter sekali. Tarekat mereka tidak mengenal mursyid-mursyid yang diagungkan. Kalau mereka berdiskusi soal-soal teologis, maka kedudukan guru tidak ada sama sekali. Semua orang adalah lawan bicara. Jadi, tidak ada kultus mursyid.
Adakah ciri lainnya? Ada. Cara mereka menuju Tuhan sangat individualistik. Toh, Nabi Muhammad ketemu Tuhan dengan cara sendirian di Gua Hira. Mereka tidak rame-rame. Kalau dilakukan rame-rame, itu namanya demonstrasi, bukan mencari Tuhan. Ketiga, masing-masing pengikut tarekat ini tidak saling kenal, dan ajaran-ajarannya disampaikan secara rahasia.
Doktrin apa yang tampak paling mencolok dari tarekat mereka? Yang utama soal tauhid. Pemahaman tentang ini agak beda dengan pemahaman awam. Tuhan bagi mereka adalah sesuatu yang tidak terdefinisikan. Laitsa kamitslihi syai’un atau Dia adalah yang tidak bisa digambarkan. Siti Jenar juga mengatakan bahwa ke-99 sifat Tuhan di dalam asma’ul husna itu juga ada potensi-potensinya dalam diri semua manusia.
Manusia punya sifat sabar karena Allah punya sifat as-Shabûr (Mahasabar). Manusia sombong karena memang ada sifat al-mutakabbir (Mahasombong) pada Allah.
Ada juga sifat ad-Dhâr, Yang Maha membuat bahaya. Lah, manusia itu kan sering melakukan hal yang membahayakan orang lain maupun dirinya. Jadi, bagi Siti Jenar, tanpa adanya manusia, tidak ada asma’ul husna, karena dia juga mengejawantah di dalam diri manusia.
Pandangan teologis Siti Jenar itu qadariyah, jabariyah, atau apa? Tidak itu semua. Bagi dia, orang yang mengamalkan ajarannya haruslah hidup dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dari situ dapat dibuktikan bagaimana citra insan kamil (manusia sempurna) itu mengejawantahkan sifat-sifat Tuhan. Artinya, manusia adalah cerminan Tuhan.
Karena itu, manusia harus mengamalkan watak as-Shabûr, al-`Âdil, al-Hakîm, dan watak-watak Tuhan lainnya.
Siti Jenar punya struktur berpikir yang sederhana. Misalnya, dia bicara soal al-khâliq, Mahapencipta atau Sang Pencipta. Kata ini terdiri atas tiga huruf: kha’, lam, qaf. Dari kata khâliq itu justru ada ciptaan atau al-khalq. Jadi, ada pencipta dan ada ciptaan.
Karena itu, munculnya khalq atau ciptaan berasal dari kha-la-qa dan al-khâliq. Hurufnya masih sama: kha’, lam, dan qaf. Nah, bagaimana cara si khalq menuju khâliq?
Jadi? Ada perantara bernama khuluq, budi pekerti. Khuluq-nya siapa? Khuluq yang karim (budi pekerti yang mulia). Semakin seseorang tak bisa mengejawantahkan khuluq itu, makin jauh dia dari Tuhan. Kalau khuluq-nya jelek, ya mesti jauh dari khâliq. Kalau mau dekat, ya harus mencerminkan perilaku sang khâliq.
Apa standar khuluq-nya di situ? Ya, perbutan sehari-hari. Ritual salat misalnya, (yang penting) efeknya dalam kehidupan sehari-hari, yaitu tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar (menjauhkan dari perbuatan keji dan munkar, Red). Khuluq itu ada dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, orang tidak boleh mengasingkan diri dari kehidupan dan masyarakat. Khairun nas anfa`uhum lin nas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, Red). Makin banyak manfaatnya akan makin bagus; makin mulia. Makin banyak mudaratnya, makin jelek orangnya.
Lalu fungsi ritual agama seperti apa? Kalau kembali ke syariat, satu-satunya agama yang mensyaratkan uji empiris adalah Islam. Semuanya empiris, dan yang tidak empiris tidak diakui. Orang yang beriman harus jelas: diyakini di dalam hati, lalu diucapkan dengan lisan.
Pengujinya apa? Perbutan! Kalau ucapanmu tak sesuai dengan tindakanmu, maka stempelmu adalah munafik. Itu empiris! Jadi, dasar pertama adalah uji empiris. Sampai menyangkut soal salat. Untuk menandai kamu Islam, ya salat. As-salâtu `imadud dîn, salat itu tiang agama. Jadi, ujinya empiris.
Di mana titik polemis antara Siti Jenar dan para wali lainnya? Tidak ada (dalam soal itu). Tapi, Siti Jenar juga mengajarkan unsur tarekat yang di dalamnya terkandung pengetahuan-pengetahuan spiritual. Yang namanya spiritualitas itu kan tidak bisa dibuktikan secara empiris. Sementara, bagi ulama yang berpikiran feqih atau syariat-sentris, pengalaman spiritual itu bersifat sangat pribadi. Bagaimana membuktikannya?!
Kalau sudah fana ketemu Tuhan, apa tandanya? Karena itu, susah memahami ungkapan sosok seperti al-Hallaj, wamâ fî jubbatî illalLâh, tidak ada lain dalam jubahku kecuali Allah. Atau ungkapan anal haq! (akulah Sang Kebenaran) dan ungkapan lainnya.
Semua itu tidak bisa dibuktikan secara empiris. Makanya, itu dianggap salah. Karena standar ujinya empirisisme.
Apa beda teori penciptaan Siti Jenar dengan teori pancaran atau emanasi dari Ibu Sina? Dalam pandangan Siti Jenar, munculnya segala makhluk berasal dari itu tadi: khâliq menjadi khalq. Kemudian, ada juga istilah ma`bûd (sembahan) dengan `âbid (penyembah). Hurufnya sama.
Bagi Siti Jenar, ada tuan dan ada hamba. Di antara keduanya ada yang bernama `ibâd (kawula). Dari sini juga muncul kata ibadah. Jadi, hubungannya lurus; harus lurus. Kalau hubungan `ibâd dengan ma`bûd makin tidak lurus, itulah yang dinamakan bid’ah.
Jadi, bid’ah tak dimaknai sebagai sesuatu yang ditambah-tambahi dalam agama. Standarnya tidak fikih. Kalau sesuatu menyimpang dari tauhid, itu baru bid’ah.
Kalau orang melakukan ibadah, misalnya, sedekah, untuk pamer-pamer, bukan untuk ma`bûd-nya, itu bid’ah, pamer! Ayo tivi, shooting saya yang nyantuni anak yatim! Itu bid’ah namanya. Itulah pemaknaan Siti Jenar.
Untuk memperantarai hubungan khâliq dengan khalq, ada konsep nur muhammad. Anda memaknainya sebagai "cahaya yang terpuji", bukan cahaya Nabi Muhammad. Mengapa? Itu pemaknaan Siti Jenar. Nama Muhammad itu kan terhitung baru. Sebelum Islam, tak ada orang Arab bernama Muhammad. Dan yang menyampaikan konsep nur muhammad juga bukan Nabi Muhammad. Ini konsep perantara untuk penciptaan awal.
Nur muhammad inilah yang oleh Siti Jenar dianggap sebagai cara pemunculan hakikat muhammadiyah.
Ceritanya begini. Taruhlah nur muhammad itu biji nangka yang sudah ada konsep buah, daun, batang, dan lainnya. Itu sudah ada. Tapi dia dibungkus dalam biji nangka. Nah, hakikat muhammadiyah baru ada kalau buah itu ditanam, tumbuh, dan betul-betul menunjukkan ada konsep daun, batang, akar, dan lain sebagainya.
Jadi, konsep nur muhammad itu tidak bermakna eksklusif bahwa penciptaan harus lewat jalur Nabi Muhammad. Menurut Siti Jenar, seluruh makhluk, apa pun agama dan jenisnya, berasal dari konsep nur muhammad itu.
Bagaimana sikap Siti Jenar terhadap keragaman budaya lokal di Jawa? Dia justru mengakomodasi itu semua. Karena itu, terhadap agama Kapitayan, agama tauhid pra-Hindu, dia langsung ambil-alih. Bagi dia, untuk menyebarkan Islam, ini sama saja. Tapi dia juga memodifikasi. Kalau untuk menyembah Tuhan, bagi dia tak usah pakai istilah salat. Sebab, agama Kapitayan sudah pakai istilah sembah Hyang. Kata itu lalu dipakai. Hyang itu dalam bahasa Kawi artinya dewa.
(http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=285730)
Yusman Roy adalah mantan petinju profesional dan sekaligus bisa dibilang sebagai anak nakal yang tobat, ia dipenjara karena menjalankan salat dengan dua bahasa.
"Sholat Dua Bahasa"
Yusman Roy sudah satu setengah tahun dipenjara gara-gara mengajarkan salat dua bahasa. Tetapi, apa pandangan dia tentang akhlak dan keberagamaan? Berikut perbincangan Kajian Utan Kayu (KIUK) dengan Pengasuh Pondok Iktikaf Ngaji Lelaku, Malang itu, di Kantor Berita Radio 68H Jakarta, beberapa waktu lalu.
Bagaimana awal mula Anda mengenal agama? Sebenarnya ini berawal semata-mata dari faktor usia. Sejak remaja, sudah ada kesadaran pada diri saya tentang perlunya melakukan kebaikan. Terus terang, saya cemburu pada teman-teman yang bisa berkelakuan baik dan punya moralitas tinggi. Ini terjadi sekitar 1980-an.
Karena itu, saya turun dari ring tinju (Roy adalah mantan petinju profesional) setelah sempat memecahkan rekor tercepat KO tinju profesional di Indonesia.
Selanjutnya bagaimana? Dari sana saya mulai iri melihat teman-teman yang berkelakuan lebih baik dari saya. Lalu saya mulai mempelajari agama dan membaca Alquran yang ada terjemahannya. Saya juga mulai belajar bahasa Arab.
Alhamdulillah, setelah itu saya jadi tahu persis bahwa segala sesuatunya akan kembali kepada kekuasaan Allah. Allah berfirman, "Allah akan menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya." Hal ini tak bisa ditawar-tawar. Allah berkenan memberi petunjuk dan membimbing saya, sehingga pintu hati saya dibukakan untuk memahami Islam.
Sebelum memeluk Islam, seperti apa riwayat keberagamaan Anda? Bapak saya Islam, tapi ibu saya keturunan Belanda memeluk Katolik. Karena itu, di masa kecil, saya Katolik. Tapi, pilihan beragama pada waktu itu bukan atas dasar kesadaran, tapi lebih karena ikut-ikutan.
Karena itu, saya belum bisa merasakan kenikmatan beribadah kepada Allah. Secara otomatis kenakalan-kenakalan masa kecil tak bisa dihindari, sampai memasuki usia remaja dan menjalani profesi sebagai petinju.
Jujur saya katakan, saya pernah hidup di masa jahiliah. Artinya, terlalu bebas dan tidak memakai aturan-aturan. Tapi, itu bagian dari hidup saya yang tidak bisa dipisahkan. Itu juga hal yang patut saya syukuri.
Saat melihat anak-anak nakal, saya tak terlalu pesimistis. Saya tetap punya harapan. Sebab, diri saya yang dulu nakal nggak ketulungan, toh bisa sadar dan berhenti juga. Dan, Alhamdulillah, tiba-tiba Allah membukakan pintu hati saya untuk berijtihad dengan gagasan salat dua bahasa yang diterima sebagian kalangan muslim.
Anda ingin menekankan bahwa dalam kehidupan itu ada fase-fase atau terminal-terminal yang harus dilalui orang? Ya. Itu saya katakan sesuai dengan filsafat Jawa: aja dumeh. Maksudnya, kalau melihat sesuatu yang kurang pas, janganlah terlalu dikecam, tapi kita arahkan ke arah yang lebih baik. Istilahnya, selalu bil hikmah atau dengan kearifan.
Jangan bertindak diskriminatif karena itu tak akan memberi kesempatan kepada orang untuk berbuat baik. Berikan orang kesempatan berbuat baik. Caranya banyak.
Misalnya? Dalam hidup, saya sudah terbiasa melihat anak-anak nakal. Kuncinya: bagaimana kita, sebagai orang tua, mengarahkan yang muda tanpa rasa sakit hati. Kebanyakan orang tua nelangsa ketika melihat anak muda yang nakal. Mungkin itu karena tidak ada pembekalan yang cukup pada orang tua tentang bagaimana mendidik anak yang tak cocok dengan keinginannya. Padahal, itu justru memukul hati sendiri. Biarlah sang anak berkembang sendiri.
Adakah guru yang ikut membimbing Anda masuk Islam dan menginspirasi untuk punya gagasan tertentu tentang Islam? Awalnya saya mengaji syariat dasar kurang lebih lima belas tahun. Setelah itu saya tingkatkan lagi dengan mengambil jurusan bil hikmah. Itu lima tahun, dengan seorang kiai yang cukup ternama di Surabaya dan Malang. Jadi, 20 tahun saya menuntut ilmu. Setelah 20 tahun menuntut ilmu, saya lalu mengemas gagasan untuk memperbaiki kualitas salat, baik sendiri maupun berjamaah.
Mengapa secara spesifik memilih salat? Dari sanalah saya berangkat memperbaiki akhlak saya pribadi. Salat itu tiangnya agama. Dan dalam agama dikatakan juga bahwa Inna as-shalâta tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar (sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan buruk dan kemunkaran)". Itu tercantum dalam Alquran surat 29: 45. Jadi, saya ingin ada pembentukan karakter melalui salat.
Tapi salat jenis apakah yang Anda maksud? Memang tidak sembarang salat. Tiwas orang sudah kelihatan aktif salat, tapi karakternya tetap tak berubah; masih tetap ada kefasikan-kefasikan. Ini sungguh menusuk hati saya. Banyak orang yang aktif salat, tapi juga jadi penjahat besar. Setelah saya dekati, ternyata benar apa yang saya prediksi: mereka melafalkan bahasa Arabnya saja. Mereka tak tahu artinya. Inilah yang jadi masalah.
Padahal, dalam Alquran surat al-Ma’un (4-5), Allah berfirman: Fawailun lil mushallîn, alladzîna hum `an shalâtihim sâhun (celakalah pelaku salat yang melalaikan salatnya). Lalai di sini banyak aspeknya. Bisa juga karena tidak tahu konsekuensi dari apa yang dibaca dan apa yang didengarnya.
Maksudnya? Bisa saja orang terbiasa mendengarkan imam dalam salat. Tetapi, bisa jadi sang makmum tidak paham maksud dan pesan dari ayat-ayat yang dibacakan imam. Karena itu, tidak ada yang bisa diingat. Dari sanalah saya menyimpulkan adanya orang yang gagal salat, dan itu celaka betul.
Dalam surat Maryam ayat 59, Allah berfirman: "Maka datanglah sesudah mereka golongan yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka mereka kelak akan menemui kesesatannya."
Menurut saya, orang yang menyia-nyiakan salat itu jumlahnya cukup lumayan, termasuk saya sendiri dulu. Akibatnya, banyak orang yang salat, tapi masih melakukan kejahatan.
Bagi saya, hanya salat yang berkualitaslah yang bisa membuat orang berakhlak karimah. Saya membuktikan, dengan memperbaiki kualitas salat, kehidupan saya ternyata mulai stabil. Dari sana saya mulai menular-nularkan pengalaman kepada orang lain.
Kapan fase kesadaran itu tumbuh? Sesudah dewasa, ketika saya sudah punya anak dan mulai mengasuh sebuah pondok di Malang. Pondok itu saya bangun untuk menampung teman-teman yang datang dengan membawa berbagai masalah. Ada yang sumpek, karirnya gagal, dan sebagainya.
Mereka saya arahkan untuk salat dengan memahami apa yang dia baca dalam salat yang menggunakan bahasa Arab.
Menurut Anda unsur apa dari agama yang paling penting? Tentu saja budi pekerti. Kalau kita berangkat dari agama yang konsisten, akan ada buahnya, yaitu adanya akhlak yang karimah. Nabi Muhammad sendiri menyatakan bahwa dia diutus untuk menyempurnakan budi pekerti. Jadi inti dari agama itu ada pada akhlak.
Nah, bagi kita yang beragama impor ini sudah barang tentu harus paham arti dan isi pesannya. Kalau bahasanya saja kita tidak tahu, bagaimana kita bisa menghayati isinya.
jadi bingung.. berarti Islam terpecah menjadi dua.. pro-kekerasan dan anti-kekerasan.. atau apa gw salah baca??
Memperbaiki Citra Islam oleh: Luthfi Assyaukanie (Jawa Pos)
Beberapa waktu lalu saya menghadiri ceramah Karen Armstrong, sarjana Inggris yang dikenal sangat simpatik terhadap Islam. Armstrong berbicara tentang tantangan agama pada abad ke-21. Tapi, dalam hampir seluruh uraiannya, dia berbicara tentang Islam dan berbagai persoalan yang dihadapi agama ini. Ceramah yang dihadiri hampir 1.000 orang di ballroom sebuah hotel di Singapura itu sangat menawan. Terutama bagi kaum muslim yang merasa mendapat teman dan dukungan atas iman mereka.
Sejak peristiwa 9/11, pengarang Sejarah Tuhan itu menjadi juru bicara Islam yang sangat simpatik. Dia diundang berbagai forum untuk menjelaskan sisi lain Islam yang kerap diabaikan pengamat dan media massa. Umum diketahui, sejak 9/11 citra Islam sangat erat dengan terorisme dan kekerasan. Tugas Arsmtrong ialah menerangkan bahwa pengaitan Islam dengan terorisme itu keliru. Islam adalah agama damai yang tidak mengajarkan umatnya menggunakan kekerasan dalam berdakwah, apalagi terorisme.
Berita seputar Islam yang dimuat media atau ditulis para sarjana, jika bukan tentang terorisme, pasti tentang tindak kekerasan. Islam seolah-olah identik dengan kekerasan.
Saya ingin menyebut sarjana Barat itu "Front Pembela Citra Islam (FPCI)". Bertolak belakang dari front lain yang kerap menggunakan cara-cara kekerasan, FPCI benar-benar mengadopsi cara yang dianjurkan Alquran, yakni dengan ilmu pengetahuan (bil hikmah), pesan yang baik (mau’izah hasanan), dan argumen yang kukuh (wa jadilhum billati hiya ahsan). Hal itu mereka lakukan bukan hanya dalam forum-forum ilmiah, tetapi juga dalam karya-karya tulis.
Lewat penelitian yang mendalam terhadap sejarah Islam, Armstrong berusaha menjelaskan sisi-sisi manusiawi Nabi tanpa kelihatan berapologi, tapi juga tidak menohok seperti yang biasa dilakukan beberapa Orientalis. Armstrong tidak menafikan bahwa ada banyak peperangan dalam sejarah Nabi. Tapi, itu tidak boleh dipisahkan dari dinamika kehidupan yang dijalani Nabi.
Menurut Armstrong, seperti dalam the Battle for God, perang atas nama agama bukan unik pada Islam saja, tapi juga ada di semua agama. Fundamentalisme modern yang berpuncak pada aksi-aksi teror, baik dalam Yudaisme, Kristen, dan Islam, sesungguhnya merupakan ekspresi perlawanan terhadap dunia yang dianggap sekuler dan anti-Tuhan.
Modernitas yang mengandalkan rasionalitas dianggap berbahaya bagi agama yang bersandar pada iman. Kaum beragama yang terus-menerus merasa terancam akan menyerang balik (backlash) terhadap simbol-simbol modernitas, termasuk gedung komersial, stasiun kereta api, dan kafe-kafe.
Karen tentu saja tidak sendirian. Kaum intelektual muslim di dunia Barat juga berusaha memperbaiki citra Islam yang selama ini dikotori para teroris dan kelompok-kelompok yang mengklaim sedang membela Islam (padahal sedang merusaknya). Para sarjana seperti almarhum Fazlur Rahman, Abdullahi Ahmed al-Naim, Khaled Abu el-Fadl, Moqtader Khan, dan dalam tingkat tertentu Irshad Manji, bisa dimasukkan ke daftar FPCI sejati.
Di Indonesia, saya melihat makin banyak gerakan Islam yang dipelopori generasi muda. Mereka datang dari latar belakang santri dan punya kapasitas keilmuwan Islam yang mumpuni. Gerakan itu berusaha mengonter orang-orang yang sering me(nyalah)gunakan Islam untuk kepentingan politik dan ideologis mereka. Lewat pemikiran, mereka berusaha memperbaiki citra Islam yang bopeng akibat perilaku para teroris dan pendukungnya.
Islam yang dihadirkan apa yang kerap disebut gerakan pembaruan atau gerakan Islam liberal itu adalah Islam yang damai, toleran, prodemokrasi, dan mendukung kebebasan sipil. Berbeda dengan Islam kaum teroris dan pendukungnya, kaum muslim liberal meyakini bahwa ajaran-ajaran Islam cocok dengan tantangan dunia modern, bisa berinteraksi dengan Barat, dan mampu bekerja sama dengan dunia internasional.
Tak ada cara lain untuk memperbaiki citra Islam kecuali lewat pengembangan wacana yang didukung kelompok-kelompok Islam liberal, baik di Muhammadiyah, NU, maupun organisasi-organisasi yang lain. Tema-tema pluralisme, liberalisme, hak-hak perempuan, dan kebebasan sipil dapat membantu perbaikan citra Islam yang selama ini terkait erat dengan kekerasan, bom bunuh diri, penculikan, dan perusakan kafe.
Sudah saatnya kaum muslim memperbaiki citra Islam dengan mengubur dalam-dalam wacana primitif yang dikembagkan para teroris dan pendukungnya.
sumber: http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=295384
Open Minded VS Broad Minded
ga tau deh gw ni terobsesi sama yang namanya diskusi.. gak cuman di salah satu group MP ajah, tapi di kantor pun gw sering YMan ama temen di meja seberang (hoooi... doi di meja sebrang?? ngapain pake YM...??? huss.. ada bos klo ngobrol melulu kan ketauan!! hehe..) belom lagi di Y!A yang udah gw post di blog kemaren.. ada something yang nggregetno dari itu semua, hihi...
anyway, temen diskusi gw itu yang di kantor itu.... happen to be a mother of 1 daughter, 9 yrs older than me, different race (she's chinese and i'm javanesse), different religion (she's christian and i'm a muslim), and yet.. we're discussing about.. LIFE... dengan segala tetek bengeknya, mulai dari urusan rumah tangga, urusan agama, budaya, kepercayaan.. almost everything..
hummm... both of us are always careful about what we say, of course.. dan sejauh ini, kami fine-fine aja.. she admit that our religions taught the same thing "kindness equals kindness" maksudnya kebaikan akan mengakibatkan kebaikan, dan keburukan akan dibalas keburukan.. sekecil apapun itu!!
tanpa perlu diomongin, saya dan dia punya 1 (satu) prinsip.. kita harus open minded dan broad minded, dengan begitu semua yang dibahas akan masuk sebagai tambahan ilmu tentang kehidupan dan bukan menang-menangan, maupun hujat-hujatan antara si pintar atau si bijak dengan si tolol atau si katrok.. (maksutnyah...??).. ya itu tadi, udah deh daripada pusing mending lanjut kebawah aja.. hehe.. mbulet entar kusut..
apaan sih open minded itu.. penting ya? apa pula broad minded itu.. apa bedanya?
broad minded : respect views and beliefs that differ from your own; nah kalo ini.. artinya bahwa perbedaan pendapat dan kepercayaan orang laen yang berbeda dari kita, perlu dihormati and.... STOP.. cukup sampe disitu.. this does not mean that we have to agree on what he/she think.. it's just that.. dia punya pemikiran seperti itu, OK, let's respect that.... but I also have my own thinking.. my own perspective, my own point of view.. dan yang paling penting.. dasar pemikiran kenapa ngga sepaham :)
open-minded : ready to entertain new ideas; which means.. bahwa pemikiran kita selalu terbuka untuk pendapat-pendapat atau hal-hal baru.. ini maksudnya adalah dengan mengakui bahwa hal-hal baru selalu terjadi di sekitar kita.. dan bahwa the only thing constant is change.. iku gampange, singkatnya gitu lo.. masalahnya, keterbukaan pikiran kita ini kadang sering dihambat sama yang namanya EGO atau apa yah... eee... ummm... budaya, ajaran agama, and so on... dengan menjadi open-minded berarti kita mengakui bahwa hal-hal atau pemikiran baru itu ada dan tidak bisa dicegah keberadaannya.. tapi bukan berarti kita harus mendukung atau menyetujui keberadaan hal baru itu.. simply just let it exist in our head.. ngono lo 'rek.. tanpa lupa bahwa kita juga harus selalu "Stand on our Ground"..
nah kalo sudah agak jelas.. (klo belon jelas, diulang aja dari atas sono..) yukkkk lanjut..
menjadi someone who are very open minded person tetapi tetap also well grounded.. (duuuuhh... kakean istilah iki.. mumeett!!) tetap tolerant dan flexible, dan cukup dengan mengakui keberadaan berbagai macam lifestyle dan viewpoints.. (yuk, mari belajar bahasa inggris.. lagi!!!)
tapi kita juga harus tau when and where.. we must stand firm, dan hanya diri kita sendiri yang bisa menentukan how to draw that line.. mungkin inilah saat dimana budaya, norma agama, ajaran ortu kita, ajaran bapak/ibu guru di sekolah berfungsi sebagai "rem" yang mengendalikan pemikiran kita supaya ngga kebablasan!! hati-hati dan inget.. hanya sebagai rem saja.. bukan sebagai sesuatu yang membuat kita jadi malas berfikir!!
jadi.. gimana dong? (loh kok tanya saya... eh tanya kenapa...??!!) pada intinya adalah, ada beberapa hal yang bisa ditawar ato diganggu gugat, ada beberapa hal yang ngga bisa ditawar-tawar lagi.. that's it..!!! (fyuuuh... finally i came up with something... ni mikirnya lama 'coy ampir setengah jam sendiri!!?? hahahaha...) kita sendirilah yang menentukan.. prinsip mana yang masih bisa ditawar-tawar, dan prinsip mana atau norma apa.. yang sudah HARGA MATI!! pintar-pintar juga memasukan unsur budaya, didikan ortu/nenek moyang, dan terutama agama biar ngga salah tempat.. karena kalo udah salah kaprah, kita justru akan terjebak di pola pikir kita sendiri sehingga akhirnya menjadi orang yang...... ummmm..... hayo yang apa....?? yang.... gampang kepancing emosi.. kalo udah emosi, biasanya pendapat orang laen ngga dihormatin lagi.. jadi akhirnya cuman.... ilok-ilokan (baca: menghina)... persis seperti di Yahoo! Answers...dan... hehe.. a group in MP.. (jujur sih saya pernah kepancing memaki orang yang postingannya di Y!Answer tuh paraaah banget.. pengen muntah bacanya huweeekk....)
the point is.. i kept reminding myself about this also.. krn belakangan sering kepancing emosi di Y!Answers.. forum yang penuh orang tolol dan berpikiran sempit..(tapi ngangenin, hehe)..
...be open to considering the existence of every possibility but in the end you must stand true to yourself...
 | Y!A | Nov 29, '07 5:14 AM for everyone |
alias Yahoo! Answers.. yap.. semacam forum tanya jawab gitu deh... 'ga tau guenya yang katrok ato emang ndeso (eh sama aja ya.. heheh..) akhirnya baru aja tau, atau emang udah lama ada forum yang satu ini.. tapi yang jelas disini ada kategori yang nama kerennya A&K (agama dan kepercayaan), sssst...... sensi bo' topik satu ini.. tapi ternyata disono diskusinya pedes-pedes Maaaann!!
**lebih pedes daripada salah satu group diskusi di MP yang ada gue sebagai anggotanya, hehe...
bener-bener gila!
Beragama yang Tidak Korupsi Emha Ainun Nadjib: Gusti Allah Tidak “Ndeso” Suatu kali Emha Ainun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. “Cak Nun,” kata sang penanya, “misalnya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu: pergi ke masjid untuk shalat Jumat, mengantar pacar berenang, atau mengantar tukang becak miskin ke rumah sakit akibat tabrak lari, mana yang sampeyan pilih?“ Cak Nun menjawab lantang, “Ya nolong orang kecelakaan.” “Tapi sampeyan kan dosa karena tidak sembahyang?” kejar si penanya. “Ah, mosok Gusti Allah ndeso gitu,” jawab Cak Nun. “Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga tidak ngajak-ngajak, ” katanya lagi. “Dan lagi belum tentu Tuhan memasukkan ke surga orang yang memperlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi. Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di mesjid, melainkan pada diri orang yang kecelakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang. Kata Tuhan: kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu. Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Akulah yang kelaparan itu. Seraya bertanya balik, Emha berujar, “Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini.
Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, membangun masjid, tapi korupsi uang negara. Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, menganjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.
Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?” Kalau saya, ucap Cak Nun, memilih orang yang ketiga. Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan membangun masjid. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya. Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi menginjak Tuhan. Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran. Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya
Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang. Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi kebaktian, misa, datang ke pura, menurut saya, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama. Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesalehan pribadi, tapi kesalehan sosial. Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya. Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama. Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang beragama mestinya memunculkan sikap dan jiwa sosial tinggi. Bukan orang-orang yang meratakan dahinya ke lantai masjid, sementara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan. Ekstrinsik VS Intrinsik Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal seorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya. Nabi Muhammad SAW menjawab singkat, “Ia di neraka.” Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti dibarengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada lingkungan sosial. Hadis di atas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik di hadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W Allport. Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya. Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang. Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy. Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebahagiaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ritual-ritual agama. Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan. Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah Newsweek edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban. Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai memperlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis. Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif , menulis betapa banyak umat Islam disibukkan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, kesengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka. Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahinya di atas sajadah, sementara di sekitarnya tubuh-tubuh layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi. Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara keagamaan, di saat ribuan anak di sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang dihamburkan untuk membangun rumah ibadah yang megah, di saat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi. Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, di saat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena tidak dapat membayar biaya rumah sakit.
Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik tidak beragama..
dikutip dari http://lenterahati.wordpress.com/2007/11/02/wawancara-gede-prama-keberhasilan-berawal-dari-keyakinan/ ----- "... attention is the active partner of intention, alias perhatian adalah mitra aktifnya niat. Kalau kita memperhatikan serangkaian perilaku, sama dengan meniatkan diri kita sendiri untuk berkembang ke sana. Kalau Anda ingin berhasil, perhatikan hanya faktor-faktor yang berbau keberhasilan. Bilamana perlu seluruh panca indera Anda hanya digunakan untuk keberhasilan. Mata hanya untuk melihat yang berhasil, telinga hanya untuk mendengar yang berhasil, mulut makan sambil membayangkan raw material keberhasilan, semuanya.." lebih lengkap lagi.. dibawah ini... “Sebagai seorang public speaker merupakan jalan kehidupan yang indah, dapat uang cukup, senang, dan beribadah. Saya dapat tiga-tiganya sekaligus. Makanya saya melihat hidup saya itu indah. Life is beautiful,” tutur Gede menyebut sebuah judul film Itali yang ditontonnya berulang-ulang.
Wawancara berikut merupakan salah satu wawancara terlengkap dan terbaik yang pernah dilakukan Edy Zaqeus dengan sang inspirator. Wawancara ini merupakan salah satu bagian dari buku best seller Kalau Mau Kaya Ngapain Sekolah! (Gradien, 2004) Anda punya tujuan yang lebih…? Oh, ya. Bagi saya kekayaan itu yang paling berguna adalah independensi. Kebebasan dalam arti yang luas. Di mana dunia kepegawaian adalah salah satu rantai yang membuat kita tidak terlalu independen. Jangankan di posisi bawah, di posisi presiden direktur pun kita ndak independen. Kan berhadapan dengan pemilik, berhadapan dengan komisaris, dengan aturan-aturan. Kalau kita menjadi pekerja independen, kan kita menentukan dan mengarahkan hidup kita sendiri. Jadi orang pikir saya enjoy di posisi nomor satu. Sebenarnya ndak. Saya lebih enjoy di profesi di mana saya bisa terbang sebebas burung-burung terbang di udara. Jadi, kebebasan! Persoalan jumlah uang dan jumlah materi itu relatif. Materi jadi sedikit, kalau kita pengeluarannya banyak. Materi jadi banyak, kalau kita pinter mengelolanya. Jadi bukan jumlah yang saya hitung, tapi bagaimana kita mengelolanya. Orang itu sukses karena dia dilahirkan sebagai orang sukses, atau karena usahanya sendiri? Saya menganut keyakinan, ya lebih banyak karena usaha. Kalau benar keyakinan banyak orang bahwa sukses itu terlahir, berarti sukses sesuatu yang sudah given. Tepatnya ndak. Sukses adalah sesuatu yang harus kita upayakan, kita cari. Badan serta jiwa kita yang mirip dengan karet yang bisa dibentuk ke mana-mana. Perkaranya apakah kita membentuknya ke arah yang lebih berbau kegagalan atau ke arah yang berbau keberhasilan. Itu lebih banyak bentukan kita. Ada unsur di luar bentukan kita, tapi lebih banyak unsur bentukan kita. Jadi sukses lebih banyak diusahakan. Terutama faktor perjuangan yang kita lakukan dalam hidup. Karet bisa ditarik sebesar apapun tergantung seberapa kuat kita menariknya. Kalau keberuntungan, apakah dibawa sejak lahir atau karena diupayakan? Bisa dua-duanya. Ada orang mengatakan dengan seluruh ilmu hokinya, dia terlahir (beruntung) dengan bentuk hidung dan sebagainya. Dua-duanya ada. Orang-orang yang dilahirkan beruntung mungkin memerlukan upaya lebih rendah dibanding orang yang terlahir tidak beruntung. Yang jelas dua-duanya sama-sama bisa berhasil. Cuma dengan tingkat kuantitas dan kualitas usaha yang berbeda. Jangan menyetempel; ndak hoki Anda pasti gagal, ndak! Namun kebanyakan orang meyakini keberuntungan dilahirkan? Boleh saja. Dan sebagaimana diketahui oleh sahabat-sahabat dari MLM, keberhasilan itu berawal dari keyakinan. Kalau belum apa-apa anda sudah meyakini tidak beruntung dan tidak berhasil, kalau kemudian anda tidak beruntung dan tidak berhasil lebih banyak gara-gara keyakinan anda. Keyakinan itu awalnya. Dan kita bisa mengubah banyak sekali hal lewat keyakinan. Nah, dalam mengubah proses keyakinan, penghambat kita yang paling utama adalah mind. Mind itu bukan otak atau pikiran. Tapi yang jelas pikiran itu salah satu pintu menuju mind. Kalau kita bisa mengubah mind kita menjadi mind yang absolutly and totally believe pada keberhasilan, kita berhasil. Saya mengenal banyak orang yang secara potensial biasa-biasa saja. Tapi karena didukung oleh yang namanya raksasa keyakinan, dia berhasil. Yang banyak terjadi adalah, orang yang potensinya rendah tapi keyakinannya tinggi, dia berhasil. Sebaliknya, ada orang yang potensinya tinggi, tapi keyakinannya rendah, ya ndak berhasil. Saya punya teman, orang yang brilian, pintar. Tapi kebriliyanannya tidak membuat dia berhasil, karena menyepelekan banyak perkara. Akhirnya nggak berhasil. Sebaliknya ada banyak orang biasa -jangan terlalu bodoh- karena merasa dirinya punya kekurangan, kemudian dia menutup kekurangannya dengan usaha besar-besaran. Usaha besar-besaran inilah yang menjadi energi keberhasilan yang luar biasa. Anda tahu, orang-orang yang berhasil sebagian datang dari orang-orang yang ndak cerdas. Tapi, karena kekurangcerdasan itulah kemudian dia menutup kekurangannya dengan usaha besar. Dan kecerdasan bisa positif, bisa negatif. Positifnya, menjadi modal lari yang kuat. Negatifnya, membuat kita menyepelekan. Sekarang perkaranya tergantung pada kita. Mau meletakkan potensi kecerdasan dan sebagainya sebagai modal untuk maju, atau sebaliknya membuat kita leha-leha dan tidur siang tiap hari. Jadi kembali ke yang tadi, life is a mind game. Jadi keyakinan yang utama? Keyakinan intinya. Cuma menyangkut keyakinan itu seringkali dibatasi banyak hal, antara lain pikiran. Pikiran cara kerjanya kan berkalkulasi, berhitung. Kalau saya melompat paling tinggi 50 cm. Kalau saya melakukan ini maksimum saya bisa mencapai ini. Berhitung. Jadi keyakinan pertama kali dihambat oleh pikiran. Pikiran itu kayak langit-langit (dalam ruangan) yang membatasi penglihatan kita. Kalau Anda memiliki keyakinan yang tinggi, raksasa yang berasal dari dalam, maka yang pertama mesti dilampaui adalah pikiran. Hanya, banyak orang yang dibelenggu dan digembok oleh pikiran. Yang kedua adalah pengalaman, terutama yang ekstrim di masa lalu. Pengalaman buruk membuat orang traumatik, kemudian ndak yakin. Pengalaman pernah berhasil membuat orang menjadi sombong. Yang ketiga pendidikan masa kecil. Point utamanya keyakinan. Orang bodoh bisa cakap. Orang yang nggak pengalaman bisa percaya diri. Itu karena keyakinan saja. Banyak hal bisa berubah karena keyakinan. Orang bisa mengalami kegagalan secara beruntun, dan akhirnya berkesimpulan, dirinya dilahirkan bukan sebagai orang yang beruntung. Komentar Anda? Yang terpenting sebenarnya bukan berapa banyak kita jatuh. Tapi seberapa banyak kita bangun. Karena keberhasilan ditentukan oleh seberapa banyak kita bangun, bukan seberapa banyak kita jatuh. Masalahnya adalah banyak orang gagal yang lebih banyak berhitung berapa kali jatuhnya dibanding berapa kali bangunnya. Banyak orang mengatakan lebih banyak jatuh, lebih down anda. Saya katakan lain. Lebih banyak anda jatuh, lebih kuat anda. Kejatuhan dalam jumlah yang banyak jangan diijinkan sebagai sebuah kecelakaan yang membuat anda pasti runtuh. Tapi gunakan kejatuhan yang banyak itu sebagai vitamin untuk bangkit, bangkit, dan bangkit lagi. Dalam kehidupan banyak orang yang berhasil, mereka adalah orang yang ndak pernah berhenti bangun. Apakah benar semua orang dilahirkan untuk menjadi pemenang? Bisa ya, bisa tidak. Kembali kepada keyakinan keberhasilan yang lebih banyak kita bentuk dibandingkan unsur dilahirkan tadi. Kalah menang itu hanya perkara pikiran saja. Orang menjadi kalah karena pikirannya memproduksi dia untuk menjadi kalah. Orang menjadi menang karena pikirannya memproduksi dia menjadi menang. Sehingga point utamanya adalah seberapa cermat kita dan seberapa pintar kita mengelola pikiran. Pikiran itu mirip dengan pedang. Dia bisa membantu. Dengan pikiran kita bisa mengukur, mengkalkulasi, meramalkan, memilah-milah. Tapi ada aspek kedua dari pikiran, di samping membantu dia juga membatasi. Pikiran membatasi orang untuk bisa terbang tinggi. “Ah, saya satpam. Sehebat-hebatnya saya hanya kepala satpam!“. Kalau saya di banyak forum menyatakan, “Jangan gunakan pikiran sebagai pembatas. Gunakanlah sebagai pembantu!“. Caranya hanya satu, lampaui pikiran. Untuk melampaui pikiran itu apa yang harus dilakukan? Ada kegiatan interaktif sifatnya. Dengan mencoba, ada hasil. Kalau ada hasil, keyakinan akan naik. Coba-hasil-keyakinan. Tapi dalam lingkaran ini yang terpenting adalah mencoba. Beda antara orang beruntung dengan orang kurang beruntung hanya dalam jumlah mencoba. Orang yang beruntung mencobanya lebih sedikit. Orang yang kurang beruntung mencobanya lebih banyak. Itu saja. Perkaranya adalah –terutama yang kurang beruntung– seberapa sabar dan seberapa tahan dia mencoba. Orang gagal adalah orang kurang beruntung, dan mencobanya kurang banyak. Orang beruntung sama sekali tidak mencoba, gagal juga. Perkaranya hanya frekuensi dan jumlah kita mencoba. Saya lihat sukses menurut anda lebih banyak ditentukan “dari dalam” bukan “dari luar”. Padahal orang baru mau berusaha atau belajar setelah dia melihat kondisi-kondisi di luar dirinya? Ya. Proses belajar banyak orang memang seperti itu. Karena dia akan belajar dari apa yang dia lihat, apa yang diajarkan orang lain. Dari luar ke dalam. Di tingkatan-tingkatan tertentu terbalik, nanti dari dalam ke luar. Nah, sahabat-sahabat yang masih belajar dari luar ke dalam, nanti dia akan menghasilkan ketergantungan. Termasuk ketergantungan kepada saya sebagai sumber ide. Di tingkat-tingkat tertentu tidak salah belajar dari sumber luar. Tapi kalau Anda mau mendalami substansi sukses yang lebih mendalam, kita harus ganti. Gurunya tidak lagi orang luar, tapi inner teacher. Guru yang datang dari dalam. Kalau Anda sudah bertemu dengan inner teacher, Anda sudah ketemu guru terbaik. Dan dia akan membimbing Anda. Hanya saja banyak orang yang seumur hidup tidak pernah menemukan inner teacher. Kenapa? Karena membiarkan dirinya selamanya tergantung kepada guru dari luar. Pada titik tertentu Anda harus berani memutuskan ini, adalah waktu yang tepat di mana saya berhenti kepada orang, tetapi lebih banyak berguru pada guru yang ada di dalam. Lebih konkritnya, bagaimana kita bergaul dengan inner teacher itu? Modal, sarana, dan kendaraannya adalah rajin berefleksi. Kalau anda rajin berefleksi terutama mempelajari catatan sejarah hidup, anda akan menemukan sebuah pola. Tapi ingat, berefleksi itu ndak bisa sekali dua kali. Ada pola, ada pathern, ada flow. Cara mengenali pola ini adalah dengan menandai titik-titik ekstrim di mana Anda pernah berhasil, di mana Anda pernah terjun ke bawah. Tanya diri Anda sendiri, kenapa berhasil waktu itu dan kenapa gagal. Pasti ada hal-hal yang menjadi benang merah yang menyatukan titik-titik ekstrim tadi. Nah, semakin banyak titik-titik ekstrim yang Anda tandai, Anda akan ketemu faktor-faktor atau variabel-variabel yang muncul di titik ekstrim itu. Kalau variabel –katakanlah kejujuran– nah, itu benang merahnya. Atau usaha, itu benang merahnya. Konsentrasikan pada satu faktor, satu variabel, yang hampir muncul di semua titik ekstrim. Nah, konsentrasikan, selami, pelajari, dalami sedalam-dalamnya satu faktor itu. Dan Anda akan dibimbing oleh inner teacher. Kalau kita sudah menemukan inner teacher dan berpegang kepadanya, apakah kita bisa menjadi kurang peka dengan sekeliling? Ndak seperti itu. Sebaliknya anda malah akan lebih peka. Orang curiga kalau kita berguru pada inner teacher, kita jadi ndak peka, egois, ndak. Yang saya rasakan malah lebih peka lagi. Bimbingan yang datang dari luar, kita hanya bisa berguru jika gurunya ada. Inner teacher itu kan kita bawa ke mana-mana? Sehingga di semua tempat, di semua situasi, Anda akan peka. Tapi kalau Anda bergantung pada guru luar, kan anda hanya sensitif kalau gurunya ada. Ada yang menjuluki agama anda adalah “agama cinta”. Bisa nggak unsur cinta kasih memainkan peran dalam bisnis? Sangat bisa, tapi cinta dalam artian luas. Di tingkatan di mana Anda sudah sampai di ujung kehidupan yang bernama cinta itu, tidak ada yang sulit. Kalau ukuran uang itu kan relatif, rezeki di tangan Tuhan. Tapi di puncak kehidupan yang bernama cinta itu, saya katakan sudah sampai di tingkatan ekstasi. Jadi keberhasilan tidak lagi dilawankan dengan kegagalan. Keberhasilan ya keberhasilan. Keberhasilan yang masih dilawankan dengan kegagalan itu menunjukkan Anda masih belum sampai di tingkatan cinta. Tingkatan bawah. Cinta itu tidak mengenal dikotomi, tidak mengenal hitam putih, tidak lawan-lawanan. Cinta ya cinta, keberhasilan ya keberhasilan. Jangan dilawankan dengan kegagalan. Tapi di bisnis orang selalu melihat winner and loser? Nah, itu hasil produksi pikiran. Winner and loser, true and false, right and wrong, itu hasil pekerjaan pikiran. Cinta itu melampaui pikiran. Tidak hanya melampaui pikiran, bahkan melampaui waktu. Bayangkan cinta seorang ibu kepada anak. Saya punya ibu sudah almarhum, tapi cintanya masih saya rasakan. Bayangkan cinta Ibu Theresa yang sudah meninggal beberapa tahun lalu, dia dirasakan oleh seluruh umat yang peka terhadap cinta kasihnya Ibu Theresa. Bayangkan senyuman seorang Lady Diana yang sudah meninggal di Paris, tapi orang masih terbayang kan dengan senyum- senyumnya yang lembut? Perjuangan seorang Mahatma Gandhi, akan dikenang sampai seratus dua ratus tahun kemudian dalam sejarah dunia. Kalau Anda di tingkatan cinta, banyak hal sudah dilampaui. Hanya saja cinta sebagai spirit, bukan cinta sebagai sebuah pengertian sebagaimana yang dilakukan kata-kata. Kata-kata kan selalu untuk menerangkan bahwa kalau hitam harus ada putih? Orang hanya bisa mengerti cinta kalau ada kebencian. Ndak, ini di luar pengertian. Masalahnya paradigma yang dominan, the winner is always the best. Ketika the winner muncul, selalu ada the loser…. Nah, itu paradigma yang harus kita bongkar. Kalau dalam frame of mind cinta, tidak ada winner and loser. Yang ada hanya winner. Everybody adalah the winner. Tidak ada loser dalam tingkatan cinta. Kenapa? Karena di tingkatan cinta kita sudah memeluk cinta dan kebencian, pujian dan makian, siang dan malam, pria dan wanita, suka dan duka, dalam sebuah lingkaran yang sama mesranya. Sama dengan saya sekarang ini, kan dilayani dan dipuja orang karena jabatan. Karena baju. Tapi besok lusa atau nanti saat harus pensiun, nggak lagi dilayani orang. Karena apa? Karena baju lagi. Artinya apa? Yang dipuja, dilayani, dan dimaki itu baju. Pujian dan makian itu ditujukan ke baju, tidak ke diri kita sendiri. Kalau kita konsentrasi ke dalam cinta yang ada dalam diri kita, tidak ada pujian dan makian. Semuanya tidak perlu mempengaruhi kita. Licin! Seperti air yang menetesi batu es. Lewat! Itu cinta. Tidak lagi mengenal hitam putih. Bagaimana caranya supaya orang-orang yang masih berada di tataran pemikiran-pemikiran sangat rasional mengenal bahasa-bahasa cinta? Nah, gurunya yang di balik. Ke inner teacher. Sayangnya kebanyakan orang masih bergantung kepada guru-guru dari luar. Dan guru-guru dari luar kebanyakan menyampaikan pesannya melalui sarana bahasa dan kata-kata pikiran. Dalam bahasa dan sarana pikiran terjadi dikotomi. Tapi kalau gurunya inner teacher, ndak! Ini inner teacher saya yang bicara…. salah satu cara untuk bisa di tingkatan cinta, atau cara di mana kita bisa melampaui mind dan pikiran, adalah keikhlasan. Cuman bukan keikhlasan yang tanpa usaha. Ikhlas tanpa usaha itu keliru. Tapi ikhlas plus kerja keras. Beda… jadi orang kerja keras, berusaha maksimal, tapi hasilnya ikhlas itu ekstasi. Tidak lagi mengenal ukuran-ukuran angka. Tidak lagi melihat keberhasilan sebagai lawan kegagalan. Winner and loser itu ndak ada. Jadi ikhlas yang bisa membawa kita terbang lebih tinggi dari pikiran kita. Sayangnya orang-orang yang rasional, orang-orang yang masih mengenal winner and loser itu dibatasi oleh langit-langit yang namanya pikiran, dan kemudian dia ndak bisa terbang. Padahal untuk bisa terbang ini ada sayap yang bernama keikhlasan, di mana tidak ada lagi hitungan. Sama dengan sahabat-sahabat di MLM dan direct marketing. Kalau Anda bertemu orang dengan sebuah hitungan mudah-mudahan orang itu jadi network, orang itu membeli, keberhasilan itu terbatas. Tapi kalau Anda bertemu dengan orang dengan spirit cinta yang ikhlas, keberhasilannya tidak terbatas. Kadang keikhlasan itu menyakitkan. Kita ikhlas ditipu orang. Kita ikhlas terus dipecat orang, ya bisa menyakitkan. Kita ikhlas dikira bodoh, itu menyakitkan. Tapi jangan pernah lupa! Di suatu tempat kita jatuh dua tangga karena ikhlas, di tempat lain kita dinaikkan dua puluh tangga oleh Tuhan. Cuma itu hanya bisa dilakukan oleh manusia-manusia yang keikhlasannya total. Keikhlasan disertai kerja keras. Tahapan-tahapan apa yang perlu dilalui supaya orang bisa sampai pada keikhlasan? Cara, tips, teknik, itu kan kayak kendaraan. Teknik saya ini hanya kendaraan yang cocok dengan saya. Kalau ada orang yang cocok dengan cara ini syukur alhamdullilah. Kendaraan itu banyak. Ada yang menyebut meditation, kendaraan kerja keras, macam-macamlah. Tapi saya suka berbagi kepada orang yang namanya jalan-jalan yoga. Ini tidak ada kaitannya dengan agama. Dalam jalan-jalan yoga itu ada delapan tingkatan. Tingkatan satu dan dua adalah good daily life, yaitu kehidupan sehari-hari yang penuh dengan kebajikan. Sederhananya ya jalankan perintah agama masing-masing. Good daily life, kurangi menyakiti hati orang, bantu sebanyak mungkin orang, lakukan pekerjaan Anda dengan rasa cinta yang penuh. Tiga dan empat adalah mengelola badan kita. Terutama panca indera, mulut, mata, telinga. Karena alasan itu sudah sejak lama saya vegetarian sebagai bagian dari perjalanan yoga. Di samping itu adalah mengelola perhatian. Apa yang kita perhatikan berulang-ulang dalam waktu yang lama akan membuat kehidupan kita sebagaimana yang kita perhatikan. Kalau Anda sering memperhatikan kehidupan seseorang, orang itu terus Anda amati dari A sampai Z, lama-lama Anda akan mirip dengan dia kehidupannya. The power of attention. Anda memperhatikan nafsu seks, Anda akan liar, pingin-pingin-pingin. Anda perhatikan makanan enak, nanti anda tertarik terus pada makanan. Makanya ada istilah attention is the active partner of intention. Perhatian adalah mitra aktifnya niat. Kalau kita memperhatikan serangkaian perilaku, sama dengan meniatkan diri kita sendiri untuk berkembang ke sana. Kalau Anda ingin berhasil, perhatikan hanya faktor-faktor yang berbau keberhasilan. Bilamana perlu seluruh panca indera Anda hanya digunakan untuk keberhasilan. Mata hanya untuk melihat yang berhasil, telinga hanya untuk mendengar yang berhasil, mulut makan sambil membayangkan raw material keberhasilan, semuanya. Lima dan enam baru mengelola pernafasan. Pernafasan maksud saya adalah the breath of life is love. Nafasnya hidup itu cinta. Kalau Anda melihat dan mengalami semuanya dengan spirit-spirit cinta, Anda sudah sampai di tingkat lima dan enam. Tujuh itu meditasi, delapan itu enlightment, pencerahan. Nah, ndak perlu sampai delapanlah. Kalau Anda sampai di lima dan enam, live, life, and love. Maka inner teacher-nya ketemu. Keikhlasan. Syukur-syukur sampai tujuh dan delapan. Mengapa Anda suka memasang gambar bertuliskan leader dan opportunity? Apa maknanya? Saya terutama suka opportunity gambarnya bagus. Peluang adalah pulau yang berada di tengah-tengah kesulitan. Di kita, terutama di direct marketing dan MLM banyak orang baru, begitu ketemu kesulitan langsung mundur. Ketemu tantangan mudah menyerah. Kalau saya menemui kesulitan saya bayangkan diri saya tengah mencari pulau yang di tengah itu. Karena peluang selalu bersembunyi di tengah-tengah kesulitan. Di bisnis DS/MLM orang memiliki spirit membantu orang lain menjadi sukses. Apakah itu bagus menurut Anda? Yang saya amati banyak orang yang mendapatkan member atau downline dengan cara-cara yang “memaksa” atau “berbohong”. Walaupun yang dengan cara-cara jujur juga banyak. “Memaksa” atau “berbohong” adalah cara yang cepat atau lambat akan menghancurkan profesi itu sendiri. Saya justru menghargai sahabat-sahabat direct marketing atau MLM yang jujur sejak awal. Imej direct marketing dan MLM di Indonesia jadi kurang baik gara-gara itu. Padahal ada 1001 cara di mana kita bisa mengajak orang menjadi network kita tanpa perlu berbohong. Saya masih percaya kejujuran, ketulusan, dan cinta akan membantu dan menyelamatkan orang. Anda sudah mendapatkan semua yang diinginkan. Apalagi yang ingin Anda capai? Bagi saya kehidupan adalah perjalanan jiwa menuju Tuhan. Restless soul, jiwa yang tidak pernah berhenti berjalan. Dan dalam proses berjalan itu yang dicari adalah usaha penyatuan dengan Tuhan. Apapun profesi kita mau MLM, direct marketing atau wartawan, pandang seluruh perjalanan kita menuju arah sana. Kesuksesan, kegagalan, harta, tahta, rumah dan mobil, itu kalau dalam perjalanan mirip dengan pohon-pohon di pinggir jalan. Dan itu akan kita lewati. Kalau hari ini Anda naik mercedes jangan lupa itu akan Anda lewati. Entah lewat gara-gara meninggal, dijual, atau ganti yang lain. Celakanya di kita banyak sekali orang berjalan berhenti di tengah jalan memperhatikan pohon yang ditemukan. Entah pohon itu harta, pujian orang lain, terkenal, ketenaran, makian, hujatan, saya ndak mau berhenti. Jangan berhenti di pohon-pohon simbol keberhasilan. Jalan terus! Dan kendaraan utama yang membuat perjalanan saya agak peaceful itu adalah ikhlas. Dalam tingkat keikhlasan total, perjalanan kita seperti berjalan di langit. Berjalan ndak ada hambatan. Banyak orang perjalanannya terhambat karena mobilnya menabrak pohon. Kalau yang dia tabrak kegagalan ndak masalah, karena kegagalan membuat kita berubah kemudian berusaha lagi. Yang bahaya adalah (menabrak) keberhasilan, karena kita terikat dengan simbol-simbol keberhasilan. Kayak saya terkenal, saya mau selamanya terkenal, terikat! Keberhasilan sering memproduksi keterikatan. Makanya saya sering mengatakan keberhasilan memproduksi kegagalan permanen. Kenapa? Karena dengan keberhasilan Anda menghasilkan benda-benda mewah. Dan dengan benda-benda mewah itu Anda terikat, dan dalam keterikatan itulah perjalanan Anda terhenti. Itu yang saya sebut kegagalan permanen. (Wawancara ini pernah dimuat di Tabloid Network Indonesia Edisi Khusus No. 09/Thn 1/10 Desember 2001)
Got this article from my e-mail.. emang sebaiknya jangan lah, karena kita cenderung memutus lafadz tersebut ditengah-tengah, jadi kalimat nya bisa beda arti.. klo emang mau dengerin mending dicopy aja ke music player, jadi bisa pake didengerin pake headset.. Insya Allah.. lebih khusyuk
----- Lafadz Al-Qur’an dan Adzan sebagai ringtone
Telah berkembang luas akhir-akhir ini, pada sebagian umat Islam fenomena menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan sebagai ring tone di telepon dan ponsel mereka. Dengan tujuan menjauhi ringtone musik yang diharamkan. Akan tetapi, betapa banyak orang yang menginginkan kebaikan tapi dia tidak mendapatkannya.
Ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan, sesungguhnya adalah lafadz-lafadz yang digunakan dalam beribadah. Allah subhanahu wa ta’ala sudah menjadikannya terkait dengan hukum-hukum syari’at, baik qira’ah Al-Qur’an atau sebagai panggilan untuk shalat. Sebagaimana telah terjelaskan dalam hadits yang menerangkan tentang itu.
Dari Malik bin Al-Khuairits radhiallahu ‘anhu ia berkata, Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Jika telah datang waktu shalat, maka hendaklah salah seorang di antara kalian adzan.“ [HR. Bukhari dan Muslim.]
Demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,
“Sesungguhnya Bilal menyerukan adzan pada malam hari, maka makan dan minumlah hingga Ibnu Ummi Maktum menyeru (adzan). “
Maka prinsip dasar kita dalam beragama adalah ittiba’ (mengikuti sunnah) bukan ibtida’ (menambah atau mengurangi sunnah). Andaikan agama ini berdasarkan pendapat dan hawa nafsu, maka adzan yang lebih utama tentu untuk shalat ‘Ied atau khusuf (shalat gerhana) daripada shalat lima waktu.
Maka karena dasar agama ini adalah mengikuti sunnah (Rasulullah), maka menjadikan ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan untuk ring-tone HP dan sejenisnya adalah sudah termasuk mempermainkannya dan termasuk hal yang sia-sia. Adapun pelakunya telah masuk dalam firman Allah :
“Dan berkata rasul, “Wahai Rabb sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sebagai yang disia-siakan.” (QS. Al-Furqon: 30).
Hendaknya setiap kita mengetahui, bahwasanya dzikir kepada Allah akan dinilai sebagai ibadah jika dilakukan dalam bentuk yang disyariatkan bukan dengan perkara yang diada-adakan. Sesungguhnya syarat suatu amalan adalah ittiba’1 dan ikhlas.
Tidaklah masuk akal, Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Qur’an untuk dijadikan ring-tone untuk menandai adanya penelpon. Dan barangsiapa yang merasa melakukan demikian itu karena senang mendengarkan Al-Qur’an, maka kami katakan, Sesungguhnya mendengarkan Al-Qur’an ada beberapa jalan. Di antaranya adalah melalui kaset dan radio. Maka orang yang meletakkan kaset dalam tape pasti dia berniat untuk mendengarkannya. Akan tetapi siapa yang menggunakannya sebagai ring-tone HP, justru mempunyai tujuan lain, yaitu sebagai tanda adanya penelpon, dan inilah yang dilarang.
Andaikan saja seseorang ingin mendengarkan Al-Qur’an sedang dia berada di tempat yang najis, maka kita katakan bahwa perbuatan ini tidak pantas bagi Al-Qur’an sehingga dia tidak boleh mendengarkannya.
Jika dia membantah dengan alasan ingin mendengarkan Al-Qur’an, hal ini pun tidak dapat dibenarkan karena tidak diperdengarkan dengan cara yang benar. Kenyataannya, begitu ayat berbunyi langsung dimatikan karena memang tujuannya bukan mendengarkan ayat. Belum lagi bila si empunya HP ini tidak mengerti arti dari ayat yang dibacakan atau karena tergesa-gesa, kemudian memutuskan/memenggal nada deringnya maka akan merubah makna/arti ayat tersebut. Misalnya: menggunakan nada dering dengan lafaz “LAA ILAAHA ILLALLAH” (Tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah) kemudian diputus - entah langsung menerima panggilan atau di diskonek - berubah menjadi lafaz “LAA ILAAHA” (tiada ilah), maka lafaz ini berubah menjadi lafaz kekufuran. Juga dengan ayat-ayat lain dari surat alqur’an, adzan, dsb.
Musibah yang ditimbulkan dari perbuatan ini tidak terhenti pada hal ini saja tetapi akan berimbas pada yang lain. Lihat saja ketika datang telepon dari seseorang, sangat mungkin HP yang sedang memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan itu akan segera dimatikan. Bahkan dia (penerima) menggerutu dan kesal setiap kali ring-tone itu berbunyi2, padahal ring-tone-nya adalah bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan. Seandainya ada yang membela diri bahwa dia matikan HP dan menggerutu karena adanya penelpon yang tidak disukainya, bukan karena ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan tadi, maka kami katakan, Akan tetapi perbuatan yang anda lakukan ini terjadi pada ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan yang anda jadikan sebagai ring tone, maka mengapa anda jadikan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz-lafadz adzan sebagai sasaran? Apakah ini termasuk memuliakan ayat-ayat Al-Qur’an dan lafadz adzan?
Allah berfirman, :
“Dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka dia termasuk dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Haj: 32).
Oleh karenanya dalam hal ini, lebih utama bagi seseorang untuk mengganti ring-tone-nya dengan suara-suara yang lain. Inilah jalan yang lebih selamat bagi semuanya.
Sumber : http://vbaitullah.or.id/content/view/688/89/
1. Ittiba' adalah mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam melakukan suatu amal.
It takes strength to fit in. It takes courage to stand out. It takes strength to feel a friend's pain. It takes courage to feel your own pain. It takes strength to hide your own pains. It takes courage to show them. It takes strength to endure abuse. It takes courage to stop it. It takes strength to stand alone. It takes courage to lean on another. It takes strength to love. It takes courage to be loved. It takes strength to survive. It takes courage to live.
|
|