something came up, crossing my mind... it's about "fanatisme terhadap ideologi dan agama".. so I start googling with those words.. and some of the result are quite fascinating (at least according to me, hehe...)
yang pertama gw dapet dari sini:
www.pikiran-rakyat.com/cetak/0603/04/0803.htm
..kita semestinya bisa belajar dari perdebatan para founding fathers ketika merumuskan dasar negara Pancasila di sidang BPUPKI. Ketika itu, terjadi perdebatan yang cukup serius antara golongan Islam dan golongan nasionalis sekular tentang dasar filsafat ideologi negara. Kalangan Islam menginginkan, bahwa Piagam Jakarta yang terdapat kata-kata "dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi para pemeluknya" harus dimasukkan dalam Pancasila dan batang tubuh UUD 1945. Namun, kalangan nasionalis sekular dan non-Islam mengganggap harus ada pemisahan antara urusan agama dan negara (A. Syafi'i Ma'arif, Islam dan Masalah Kenegaraan, 1995).
Dengan fakta Indonesia yang plural dan terdiri dari banyak agama itu, akhirnya tercapai kata kompromi pada sila pertama Pancasila yang semula hanya berisi Ketuhanan, ditambah menjadi "Ketuhanan Yang Maha Esa" dan dijadikan sila pertama dari Pancasila. Dengan begitu, sila ini menjadi landasan bagi implementasi dan penjabaran sila-sila selanjutnya. Dan, hal itulah yang menjadi dasar kompromi dan pijakan bahwa meskipun negara kita bukan negara agama, tetapi persoalan agama menjadi persoalan penting dalam tata negara kita.
yang kedua dari blog ini...
http://haqiqie.wordpress.com/2006/06/14/aku-dan-setan-ideologi/
Sebuah ideologi atau agama memang sering memberikan api semangat kehidupan. Atau setidaknya memberikan sejuknya ketenangan. Akan tetapi sebagai manusia, aku masih ngeri membayangkan bagaimana ideologi atau agama itu dapat menjadi pengobar permusuhan dan pertikaian. Dari benak nalarku, tindakan tersebut bukanlah tidak bisa dimengerti, bahkan dari logika situasi pun aku bisa mengerti kenapa hal tersebut bisa terjadi.
Klaim kebenaran antara yang satu dengan yang lain yang dibarengi oleh semangat perjuangan memperjuangkannya menjadikan pertikaian dan perkelahian itu bisa terjadi. Memang telah banyak orang yang menganut ideologi atau agama tertentu menyadari konsekuensi logis dari keyakinannya, sehingga secara lambat laun mereka mengembangkan apa yang sering kita namai dengan sikap toleransi. Membiarkan yang berbeda, menumbuhkan yang sama dalam kedamaian dan keselarasan hidup dan kehidupan mereka yang beda.
Segolongan kelompok selalu mengidentikkan pertikaian atau perkelahian ini pada suatu sikap fanatik terhadap ideologi atau agama yang dianutnya. Islam fanatik, kristen fanatik, budha fanatik, hindu fanatik, dan sebagainya merupakan penamaan dari kelompok-kelompok ini. Secara samar pun kelompok ini juga sering disebut sebagai kelompok fundamentalis atau puritan.
... wheeeww... i still haven't found my answer... so keep scrolling down.. heheh....
this one is from...http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A4661_0_3_0_M Dalam karyanya Ideology and Politics (1976), Martin Seliger mengatakan bahwa
ideologi adalah orientasi tindakan yang berisi kepercayaan yang diorganisasi dalam satu sistem yang koheren. Definisi yang dibuat Seliger ini dapat dipahami bahwa ideologi tidak hanya memberikan pandangan dan ajaran tentang sistem ekonomi dan politik. Ideologi juga memberikan suatu
sistem kepercayaan, sehingga penganutan terhadap sebuah ideologi cenderung mendorong seseorang menjadi
fanatis terhadap nilai-nilai yang disediakan ideologinya itu.
Karakter dasar dari ideologi adalah sifatnya yang
tertutup. Berbeda halnya dengan ilmu pengetahuan, yang senantiasa terbuka terhadap pandangan kritis dan temuan baru. Bahkan seringkali perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan adanya pergeseran teori dari yang lama kepada yang baru. Hal itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan
tidak bernilai sakral dan absolut, sehingga penganutan terhadap ilmu pengetahuan tidak berdampak pada fanatisme.
Ideologi memiliki kemiripan dengan
agama. Karena ideologi menanamkan sistem kepercayaan yang mendorong seseorang untuk
memperjuangkan apa yang dipercayainya sebagai kebenaran. Dalam penelitiannya, Seliger melihat bahwa perilaku politik banyak dipengaruhi oleh Ideologi. Dinamika politik menggambarkan dialektika dan konflik ideologis para
politisi.
-------------------------------------
lumayan... understand a bit about this...
but i still don't understand... one thing..
kenapa sih banyak partai politik di Indonesia selalu mengusung agama sebagai kekuatannya... seakan-akan klo ngga bawa agama trus ngga ada pendukungnya? apa ini ngga bikin rakyat tambah bodoh ya...